Ketulusan yang Membebaskan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jadilah tulus seperti Merpati”
(Didaktika Hidup Sadar)

Kebebasan itu bukan berarti Anda boleh melakukan apa saja yang Anda inginkan. Tidak! Kebebasan sejati itu justru di kala Anda tidak lagi menjadi budak, agar Anda tampak baik di mata orang.

  1. Ketulusan itu bukan Keluguan

Orang yang lugu itu tidak tahu, bahwa ia sedang ditipu. Sedangkan orang tulus itu tahu betul, bahwa ia bisa ditipu, tapi ia justru memilih untuk tetap bersikap jujur.

Keluguan itu terjadi, karena orang-orang sedang kekurangan pengetahuan. Sedangkan ketulusan itu adalah sikap kelebihan keberanian.

  1. Mengapa ia Membebaskan?

Coba Anda renungkan!

Di saat Anda bersikap tidak tulus, maka, Anda harus berusaha untuk mengingat-ingat, tadi aku bicara apa, ya, kepada A? Eh, jangan-jangan B tahu.

Bayangkan, jika Anda harus menghidupkan 10 versi dirimu dalam 10 ruangan yang berbeda. Bukankah itu akan sangat melelahkan? Ya, itu menjadi sebuah penjara bagi Anda.

Di saat Anda bersikap tulus, maka Anda malah hanya akan mengingat satu hal: kebenaran sejati. Engkau harus menjadi orang yang sama di semua ruangan. Beban dari kesepuluh topeng itu pun akan terlepas. Nah, itulah kebebasan.

Ya, tentu Anda masih ingat, mengapa Yesus berkata, “Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8: 32).

Ingatlah, bahwa bukan kesuksesan, bukan pula kekuasaan, melainkan kebenaran sejati, itulah ketulusan.

  1. Ketulusan adalah Bentuk Cinta yang Paling Tinggi

Ya, bukankah hanya pribadi yang tulus yang akan berani berkata:

  • (1) “Aku tidak tahu.”
  • (2) “Eh, maaf, aku yang salah.”
  • (3) “Aku membutuhkan kamu.”

Ke-3 kalimat pernyataan sikap di atas ini, tidak mampu diucapkan oleh orang-orang yang sombong. Tapi, bisa dan dengan mudah diucapkan oleh orang-orang yang bersifat bebas.

Wahai sang ketulusan, kemarilah, luluhkan hati kami, lepaskan kami dari keinginan untuk selalu terlihat hebat.

Ya, jadikanlah kami pribadi-pribadi yang bebas, karena kami ini tulus!

Kediri, 30 September 2026