Vas Porselin nan Retak

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat”
(2 Korintus 4: 7)
- Vas Porselin
Porselin itu tergolong sebagai barang mahal, indah, dan berharga, tapi sekaligus rapuh, karena mudah retak.
Yakinlah, bahwa Tuhan telah menciptakan kita sebagai porselin-porselin hidup. Dengan sangat detail, ketelitian, dan bahkan berharga di mata-Nya.
- Nan Retak
Dari mana datangnya ‘keretakan’ itu? Ya, dapat saja, karena berbagai faktor penyebab. Antara lain:
a. Retak, karena terjatuh: Ya, itulah simbol faktor dosa dan kesalahan manusiawi kita.
b. Retak, karena dibanting: Ya, itulah simbol saat kita dikhianati dan dilukai oleh sesama kita.
c. Retak, karena waktu: Hal itu dapat berupa luka-luka lama (luka batin), yang terus berdarah lagi, karena belum disembuhkan.
Sejatinya, inilah Misterinya, yakni ‘Kintsugi Allah
Pernahkah mendengar istilah ‘Kintsugi?’ Inilah sebuah seni dalam budaya Jepang, yakni seni ‘porselin retak yang disambungkan dengan emas’.
Bagaimanakah Hasilnya?
Dalam proses berseni ini, keretakan porselin justru disembunyikan dengan dilapisi emas. Hasilnya?
Ternyata vas bunga nan retak ini, kini harganya justru kian melambung, jika dibandingkan dengan sebelum ia retak.
Ketahuilah, Proses itu juga Terjadi, ketika Tuhan Mendandani Kembali Kerapuhan Kita!
Inilah Misterinya!
a. Tuhan justru tidak membuang sebuah vas yang telah retak.
“Buluh yang terkulai lemah tidak akan dipatahkan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan.”
(Yesaya 42: 3)
b. Retakan itu pun diisi dengan Emas: yang adalah ‘kasih karunia’.
Ya, Tuhan telah rela untuk mengisi kembali keretakan itu dengan pengampunan, luka-luka pun diisinya dengan kesembuhan, dan rasa malu kita pun diisi-Nya dengan kemuliaan.
c. Cahaya justru terpancar dari keretakannya:
“He, ternyata dia toh masih juga bersinar?” Ya, karena ada lapisan emas yang telah menutupi keretakannya. Emas itu adalah Darah Yesus.
Makna Utuh: ‘Mata Sadarku”’ ada di sini
Ya, sebuah vas yang utuh: akibatnya aku sering bertingkah angkuh dan suka pamer. Tapi, sebagai sebuah vas yang retak, aku menjadi lebih sadar diri dan rendah hati.
“Lewat keretakan itulah terang Tuhan ke luar”
(2 Korintus 12: 9)
Kini sadarlah aku, bahwa keretakanku adalah sebuah jalan masuk untuk cahaya.
Konklusi
“Vas Porselin Retak” adalah sebuah kesaksian hidup. Bahwa dunia ini pun sering kali hanya mencari vas yang sempurna.
Tuhan justru mencari vas yang retak (Dalam sikon yang sudah terjatuh ini, maka Tuhan rela menunjukkan kuasa-Nya).
Jadi, janganlah Anda takut dan menyembunyikan keretakan itu, tapi persembahkanlah kepada Tuhan, karena “Dialah Tukang Porselin Sejati.”
Kelak, mata semua orang pun akan melihat kepada emas-Nya.
Kediri, 7 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.