Deru Debu Balada Nasib

Mosaik Serpihan Kelana -60
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Dari mulut bumi yang membara menyala
muntahkan api dan kepulan abu membubung ke angkasa
lalu perlahan jatuh kembali ke bumi
Ada yang singgah di dedaunan pohon menanti hujan
Ada yang tertahan di atas pondok dan gedung
Ada yang menerobos wajah dan bulu mata
Deru zaman terbangkan ragam debu problema
mencengkram jiwa raga yang digilas roda waktu
tetapi harus terus derap melangkah untuk melerai lapar menepis dahaga

Para petani bersahabat dengan debu di ladang menanti musim hujan datang
atau berteman akrab dengan lumpur di sawah
Para buruh bergulat bermandi keringat ditagih kewajiban
Kaum miskin dan gelandangan tidur di jalanan, trotoar dan kolong jembatan
Nasib mewariskan jiwa raga untuk harmoni dengan alam
karena kebutuhan rezeki kehidupan tak bisa dihindari
Anak-anak gembira bermain debu tanah di tengah kampung atau di hamparan pasir pantai
Bocah-bocah bercanda dengan tanya dan cahaya mentari

Setiap pribadi menulis jejak telapak mimpi
pada lembaran jalan kelana sunyi
pada halaman waktu yang terpatri keharusan
pada ruang gersang yang dipagari kewajiban
pada warisan tradisi yang tak mampu dihindari
pada ruang penjara yang tak disadari
pada belenggu tirani yang tak bertepi
Kita manusia berasal dari debu tanah
segala kebutuhan hidup terjadi di atas bumi
dan pasti kembali pulang ke sana juga

Ketika gelombang peradaban bergelora
catatan pengalaman dan sejarah pasti terpatri
meskipun tidak semua diliput literasi jemari
biarpun kebanyakan mulut terbungkam sunyi
walaupun jutaan pribadi lara merana dan mati
Ada jutaan sosok wajah dan warna-warni nasib manusia
Entah berasal dari debu tanah dan mewarisi tradisi
Entah terpaksa menjalani takdir Ilahi
Entah karena kreasi pilihan diri sendiri
Entah yang dikorbankan dan terinjak seperti debu di kaki

Deru debu balada nasib
terus ada dan terjadi dalam roda waktu
Meskipun tidak semua peduli dan menyadari
karena berbeda-beda kemampuan untuk memilih dan memutuskan
Biarpun banyak yang berpesta pora dengan kemajuan ilmu dan teknologi digital
Walaupun sejuta topeng diciptakan untuk aneka peran di panggung sandiwara
Potret zaman merekam sosok pribadi terasing
yang terlintas merana hingga tak sadari apa dan siapa dirinya