Sang Kebijaksanaan di Manakah Engkau?

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan”
(Amsal 9: 10)
“Kebijaksanaan,” aku telah mencarimu di balik deretan tumpukan buku, tapi aku sangat kecewa, karena ternyata yang aku temukan dalam buku-buku itu hanya pembicaraan tentang engkau, tapi bukanlah engkau sendiri.
Aku lalu beralih ke sebuah mimbar pidato, tapi lagi-lagi yang sempat kudengar hanyalah gema pekikan membahana yang mengalun dari bibir sang orator yang tampak seolah bijak, tapi sejatinya hanyalah bak seorang penjual petai hampa alias pembohong. Tapi aku tidak berhenti mencari.
Kini, aku mencari di balik tumpukan gelar akademik dan ijazah serta sanjungan palsu belaka.
Mengapa kian aku kejar, kau justru kian menjauh?
Aku pun diam mengheningkan batin. Dalam sunyi itu, baru aku sadar, ternyata engkau malah sedang bersembunyi di puncak menara.
Ternyata engkau justru berada di dalam duka dan lukaku.
Ya, saat aku dikhianati, aku malah memilih untuk mengampuni, dan bukan membalasnya.
Di saat itu juga, engkau justru sedang mematung di sisiku.
Engkau ternyata berada di dalam derita kecil yang aku terima tanpa mengeluh.
Kala itu, aku dicerca dan diadili habis-habisan bagai penjahat kesiangan. Tapi di saat duka mencekam itu, aku pun masih mau berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu atas diriku.”
Ya, Engkau Berada di Sudut Kesetiaan yang justru sangat Membosankan (Di kala aku tetap melakukan rutinitasku tapi tanpa ada sanjungan).
Ya, itulah engkau, Sang Kebijaksanaan itu. Engkau adalah cinta yang membuat hatiku merendah, dan akhirnya muat bagi Tuhan.
Juga masih aku ingat, bukankah Kitab Suci berkata, “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan?” (Amsal 9:10).
Nah, jika hari ini kau pun bertanya, “Di manakah engkau, maka inilah sahutanku.”
“Aku tidak jauh bahkan aku sedang menatapmu dari balik cermin. Dan sementara itu, aku menunggumu untuk berhenti mencariku di luar sana.”
Kediri, 27 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.