Rahmat Allah yang Mengubah Hidup Kita

“Rahmat-Mu tidak menghapus masa laluku. Tapi mengubahnya menjadi kesaksian kerahiman-Mu.”

Allah yang Maha Rahim,
Sabda-Mu mengingatkanku, bahwa aku tidak ditentukan oleh masa lalu, kegagalan, dan label yang diberikan orang lain kepadaku.

Paulus mempunyai banyak alasan untuk hidup dalam penyesalan, karena pernah menganiaya Gereja-Mu. Ia justru berkata: “Karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.”

Dalam Injil, seorang perempuan datang kepada Yesus dengan membawa beban masa lalunya. Orang-orang melihatnya sebagai pendosa. Tapi Yesus melihat hatinya yang datang untuk menerima kerahiman.

Ia tidak datang untuk membela diri.
Ia hanya datang kepada Yesus.

Air matanya menjadi doa. Pertobatannya menjadi kasih. Rasa syukurnya menjadi penyembahan.

Simon melihat masa lalunya. Yesus melihat hatinya.

Bapa, betapa mudahnya aku melakukan hal yang sama: mengingat kesalahan orang lain, tapi melupakan betapa besar pengampunan yang telah kuterima dari-Mu. Ajarlah kami untuk tidak pernah melupakan, bahwa hidup kami adalah anugerah.

Seperti yang diingatkan Santo Robertus Bellarminus, kuk yang berasal dari-Mu tidak menghancurkan kami. Di dalam tangan-Mu, bahkan beban pemuridan dapat menjadi pelukan kasih.

Semoga Injil yang telah aku terima tidak berhenti sebagai sesuatu yang kupercaya, tapi menjadi sesuatu yang dihidupi.

Kerahiman-Mu menyembuhkan masa laluku, rahmat-Mu menguatkanku, dan kasih-Mu menuntun masa depanku.

Semoga setiap orang yang aku jumpai tidak mengalami penghakiman dariku, melainkan merasakan sedikit dari kerahiman yang mereka temukan dalam Yesus.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)