Jalan Menuju Kasih

Bagaimana rasanya, ketika beban hidup yang amat berat, menyiksa, dan membuat tak berdaya ini, akhirnya terangkat dan berlalu pergi?

Anda pasti merasa lega, senang, dan bersyukur. Hutang terbayarkan. Pasangan bertobat. Anak-anak lulus dan bekerja. Rekonsiliasi diwujudkan dan ada pangampunan. Masih banyak contohnya lagi.

Wanita pendosa yang diampuni Yesus, tapi dimusuhi orang-orang Farisi adalah contoh bagi kita. Dia juga seperti kita, memiliki beban berat. Begitu mengetahui, ada peluang dan seseorang yang bisa mengangkat bebannya, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kita menemui yang bersangkutan dan berusaha agar masalah kita dibantu diatasi. Ia itu penyelamat kita. Melaluinya, Tuhan bekerja.

Proses mendapatkan belas kasih dan keselamatan itu dapat dikatakan sebagai jalan menuju kasih. Ketika menemukan kasih yang tertinggi, yaitu sumbernya, di situ ada keselamatan. Dosa-dosa dihapuskan dan pendosa diampuni, lalu masuk ke dalam hidup yang baru.

Jalan menuju kasih memperlihatkan dari awalnya: sebuah pengalaman mencari Sang Penyelamat agar dapat meringankan beban hidup yang berat. Orang yang dalam proses mencari, memiliki kasih yang tidak cukup. Kesabarannya tipis, pengertiannya buntu, tidak tenang, harapannya goyah, pikiran negatif, semangat kerjanya menurun, dan pintu hatinya tertutup.

Roh Kudus membimbingnya supaya beranjak dari situasi terpuruk, lalu berjalan ke depan, meski terangnya tidak selalu benderang. Ia juga bertemu dengan sekian banyak orang dan mengalami aneka situasi, semuanya itu menjadi pelajaran baginya. Ia harus terus berjalan menuju kasih. Sejatinya untuk sampai kepada kasih, ia melewati banyak rintangan, seperti yang dialami oleh wanita pendosa di dalam kisah Injil. Ia tidak boleh menyerah dan berbalik mundur. Semangatnya makin kuat dan targetnya harus berwujud, yaitu mendapatkan kasih itu.

Santo Paulus berkenan menemani kita, ketika proses itu berlangsung, dan khususnya agar tujuan itu dicapai. Ketika beban hidup sudah terangkat, seperti pengalaman Paulus dan wanita pendosa itu, kita dianugerahi kasih karunia Allah, sehingga hidup kita berubah. Menurut Santo Paulus, perubahan itu bukan kita yang hidup di dalam diri ini, melainkan yang hidup di dalam kita adalah Yesus.

“Ya, Tuhan Allah, semoga kasih karunia-Mu menjadi penuh dan menguasai diri ini, sehingga kami mampu mengalahkan kelemahan dan dosa sendiri. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)