Dalam Dukamu Bunda Ada Selamatku

“Derita Sang Putra mendatangkan duka lara di hati Sang Bunda, maka pantaslah ia dijuluki Mater Dolorosa, Bunda Berdukacita.”
Dilukiskan secara tragis oleh Yohanes, penulis Injil, bahwa di dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya. Lukisan tentang dekatnya jarak antara tiang gantungan di mana Sang Putra dipaku dengan berdirinya Sang Bunda membuat kita bisa membayangkan, bahwa semua luka dan tetesan darah dari tubuh Sang Putra terlihat jelas oleh Sang Bunda. Sungguh, derita Sang Putra terus menerus melukai hati Sang Bunda. Ya, dua hati yang menyatu dalam keabadian. Kendatipun demikian, di atas tiang gantungan itu, Sang Guru masih mengingat dan menyanyangi kita para murid dan pengikut-Nya, sehingga Ia menyerahkan Ibu terbaiknya untuk kita dengan berkata, “Inilah Ibu-Mu!”
Pada perayaan Santa Perawan Maria Berdukacita mengingatkan kita, bahwa:
- Maria telah menjadikan dirinya sekaligus sebagai teladan dan Ibu terbaik dalam kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi setiap derita sebagai konsekuensi dalam mengikuti Yesus;
- Selalu ada senyum dan sukacita dibalik setiap derita, karena keyakinan, bahwa Tuhan pasti menguatkan dan menjadi harapan terakhir sebagai Penghibur kita;
- Derita dan masalah apa pun yang kita alami dalam hidup tidak boleh diizinkan merenggut iman dan harapan untuk terus mewartakan cinta kepada sesama.
Akhirnya kita sadari, bahwa dalam setiap tangisan dan duka Sang Bunda, selalu ada doa yang tulus bagi kesejahteraan hidup dan keselamatan kita putra-putrinya.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.