Kamulah yang Menguduskan Jalan Panggilanmu

“Kekudusan atau tercemarnya sebuah panggilan hidup itu sangat tergantung pada sejauh manakah kita berjuang untuk menguduskan diri dalam bentuk hidup yang dipilih dengan bebas dan dijalani dengan sukacita.”
Dalam Injil, kita menemukan dua bentuk hidup kekristenan, yakni hidup dalam perkawinan dan hidup tidak kawin atau selibat. Dari sinilah, Gereja Katolik mengajarkan, bahwa ada dua corak panggilan, yakni panggilan umum (hidup berkeluarga) dan panggilan khusus, yakni selibater.
Kita, baik awam maupun hirarki diajak melihat kembali ke belakang, ke dalam praktek hidup kita setiap saat. Tidak dapat dipungkiri kita menyaksikan fakta terjadinya perceraian sebagai akibat dari perselingkuhan dan kekerasan, pun sebagian kaum hirarki dan biarawan-biarawati yang terlibat dalam pelanggaran selibat sampai muncul sendiran, “lebih baik menikah daripada hidup suam-suam kuku.”
Injil mengingatkan kita, bahwa:
- 1) Baik awam, hirarki, maupun biarawan-biarawati kembali menghayati janji-janji yang terucap kepada Tuhan dan disaksikan oleh umat beriman lainnya;
- 2) Setiap dari kita dipanggil untuk menguduskan bentuk hidup yang dipilih dengan bebas lewat tutur kata dan tindakan kita setiap saat;
- 3) Sadarlah, bahwa serangan terhadap hidup berumah tangga maupun selibat sangat gencar dan dasyat di masa ini. Tapi hal ini juga jadi kesempatan untuk bersaksi kepada dunia, jika Tuhan menghendaki dan kita mau berjuang maka semua tantangan itu akan kita lewati.
Akhirnya sadarlah, bahwa baik selibat maupun hidup perkawinan itu akan hancur, bila kita didapati tidak setia dalam panggilan hidup masing-masing.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.