Sajak Seorang Pengembara

Mosaik Serpihan Kelana -42
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Angin mengajariku mengembara merajut jejak
Aku berjalan dengan energi rasa dan nalar
aku melangkah dengan tanya nurani
Aku berkelana dengan damba sanubari jiwa
Entah
sampai ke mana saja pergi
Entah untuk berapa lama nanti
Entah menjadi apa dan siapa
Entah mengapa dan untuk apa terlahir ada di dunia

Cahaya mentari mengasah nalarku
untuk menjumpai seribu sosok dan sejuta wajah
Sinar bulan dan bintang menuntun telapak kakiku
agar bersahabat dengan debu tanah kerikil dan bebatuan
Siang dan malam memahat jiwa raga aku meraih fakta dan misteri
Setiap tanya adalah jawaban kebodohan dan kepapaan kata bahasa
Mungkin karena aku dilahirkan dalam kata bahasa

Kadang pesona pelangi sekejap menghibur diri
Rerumputan dan hutan belantara menulis nada di wajahku
Beraneka serangga dan margasatwa merekam irama dalam relung rambutku
Tetes embun, sungai, danau dan samudra membisikkan artinya dahaga
Padang savana, bukit, lembah dan gunung mengajari maknanya lapar
Sedangkan hujan, guntur, petir dan kilat menguatkan jiwa raga terus berkelana

Ketika sejenak rehat di bukit
aku pandangi misteri lembah dan gunung tinggi
aku coba saksikan luasnya angkasa dan ajaibnya aneka planetnya
adakah pengembara yang aneh seperti aku
Saat duduk di hamparan pasir pantai
pikiranku menerjang ombak gelombang samudra
anganku berlari meraih pulau dan benua yang terlihat dan batas pandang yang samar
Apa dan siapakah yang asinkan lautan bagi lidahku

Aku ternyata hanya seorang pengembara
yang coba menulis sajak di telapak kaki miskinku
yang berjuang merajut syair dengan jemari papaku
Aku terbuang dari kumpulan pewaris tradisi peradaban
Aku terhempas dari kebiasaan penerus kreasi budaya
Mungkin orangtuaku adalah tanya tak bertepi
yang melahirkan aku dengan warisan sosok pengembara tanya
Sanak saudara dan sahabatku adalah pengemis, gelandangan dan orang-orang terbuang

Aku menulis sajak sebagai seorang pengembara
karena sedang berkelana meninggalkan tradisi kata bahasa dan angka
Ukuran harkat martabat kehidupan adalah harta kekayaan, gelar dan kekuasaan
Kata bahasa dan angka adalah batasan makna paling sakti bagi peradaban
Selera dan gengsi adalah sosok kehormatan dan wajah kebanggaan manusia
Tetapi…
aku meyakini sosok pribadi pengembara ini adalah hakikat makna sejati
untuk menjawab semua pertanyaan asali