Dunia Daun Kelor

Pernyataan tema ini adalah sebuah kiasan. Dunia yang begitu besar, yang dipandang dari ke-empat kutubnya hanya dianggap sebesar daun kelor. Kita tahu, bahwa daun kelor itu sebesar ujung permukaan jari-jari tangan manusia. Memandang dunia sebesar daun kelor, jelas sebagai sebuah gaya bahasa untuk mengungkapkan suatu makna tertentu dalam hidup dan tingkah laku manusia.

Orang-orang bergerak begitu beragam dan cepat, ditambah dengan frekuensi pertemuan satu sama lain yang banyak dalam satu konteks tertentu, dunia ini terasa begitu kecil. Misalnya pada jam 10 pagi, ada dua atau beberapa orang bertemu di suatu tempat di sudut kota, lalu pada jam 12:00 mereka bertemu lagi di salah satu sudut kota lainnya dalam sebuah konteks urusan yang lain. Bagi mereka dunia itu terlalu kecil, bagaikan daun kelor.

Dalam sudut pandang yang lain, dunia seperti daun kelor itu merupakan suatu ungkapan untuk menunjuk pada sikap manusia yang minimalis terhadap kenyataan dunia yang amat besar dan beragam pengaruhnya.

Ada sebuah disiplin religius yang mengajarkan dan menganimasi manusia untuk hidup sederhana, hidup dengan suatu penyangkalan atas kemegahan dan kekayaan dunia ini, bahkan suatu hidup yang tidak melekat dengan dunia ini.

Di jalan untuk mengikuti Yesus Kristus, ajaran spiritualitas ini sungguh ingin menjadikan dunia itu kecil seperti daun kelor. Ajarannya membimbing orang-orang beriman supaya mencukupkan diri dengan yang dikaruniakan oleh Tuhan, sesuai dengan batas kemampuan sebagai manusia.

Ajaran seperti ini ditekankan kembali oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ketika ia berkata: “Orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia ini seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” Rahmat dan karunia Tuhan cukup bagi kita untuk bertahan di dunia ini.

Jika kita mencukupkan diri dengan yang ada di sekitar kita secara nyata, dan yang dapat memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup harian kita, menurut pandangan dunia, ini adalah sebuah kesederhanaan dan kemiskinan. Tapi Yesus menguatkan iman kita dengan mengatakan, bahwa hidup seperti ini adalah sebuah kebahagiaan, dan Kerajaan Allah adalah harta milik kita yang sesungguhnya. Tampaknya ini menunjukkan kelaparan, kesedihan, kekurangan, bahkan dianggap tidak laku atau tidak berguna. Tapi Tuhan Yesus menegaskan, bahwa cara hidup seperti ini sungguh menghadirkan kebahagiaan. Jadi dunia daun kelor adalah jalan untuk kebahagiaan kita.

“Ya, Tuhan yang Maha Murah, jadikanlah kami anak-anak-Mu yang rendah hati dan penuh kemurahan, supaya kami menjadi lebih terbuka dalam berbagi kepada orang lain. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)