Benih Kasih yang Menghasilkan Buah Kekal

Bayangkan seorang petani yang memegang sebutir benih. Benih itu kecil dan bisa disimpan. Jika petani itu berani menanamnya di tanah, benih itu akan ‘mati’ – hancur di dalam tanah, lalu bertunas, tumbuh, dan menghasilkan banyak buah. Tanpa kematian, tidak ada kehidupan baru.
Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata, “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yesus berbicara tentang pengorbanan, penyerahan diri, dan buah kehidupan yang datang dari kasih sejati.
Gereja merayakan Pesta Santo Laurensius, diakon yang jadi Martir, karena imannya. Ia hidup pada abad ke-3, saat penganiayaan terhadap umat Kristen sangat berat. Ketika Kaisar Romawi menuntut harta Gereja, Laurensius malah mempersembahkan orang miskin, sakit, dan mereka yang tertindas, sambil berkata, “Inilah harta Gereja.” Karena kesetiaan itu, ia disiksa dengan kejam. Santo Laurensius tetap kuat dalam penderitaan.
Apa ‘benih’ dalam diriku yang harus aku relakan untuk ditanam? Kepada siapa aku bisa membagikan hidupku hari ini dalam kasih, pengorbanan, atau pelayanan?
Marilah kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Hidup yang hanya dipakai untuk diri sendiri itu tidak akan bertumbuh. Sebaliknya, hidup yang terus dibagikan, dikorbankan demi kasih, akan menghasilkan buah yang jauh lebih besar: kedamaian, sukacita, dan hidup kekal.
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk rela menyerahkan diri ini seperti biji gandum yang jatuh ke tanah. Berilah kami keberanian seperti Santo Laurensius, agar kami hidup bukan untuk diri sendiri, tapi bagi-Mu dan sesama. Jadikanlah hidup kami benih kasih yang menghasilkan buah kekal. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.