Vitalnya Sebuah Kesadaran

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Tanpa kesadaran, Anda bisa hidup 50 tahun, tapi yakinlah, sesungguhnya Anda justru belum benar-benar hidup.”
(Didaktika Hidup Sadar)

“Kesadaran itu adalah sebuah anak kunci utama dan sebuah jalan menuju kebijaksanaan!”

  1. Mengapa Kesadaran itu Vital?

Mari kita mencoba membayangkan, “Bagaimana jadinya, jika seorang sopir ternyata menyetir mobil dengan tanpa sebuah kesadaran?”

Bagaimanakah filosofinya: Tentu, suasana dan keadaan di mana-mana akan jadi ‘chaos’ dan serba kontradiktif. Semisal, ada orang pintar, tapi ia tidak bersikap arif. Ada orang yang tekun berdoa, tapi tuturannya, selalu menyakiti hati sesamanya. Ada juga orang yang sangat sibuk bekerja, tapi ternyata itu hanyalah sebuah sikap pelarian dari keluarganya.

Ya, ingatlah bahwa kebijaksanaan itu sama dengan sesosok pribadi yang cerdas dan hatinya ‘terjaga’, dan ya, itulah sekeping kesadaran.

  1. Tiga Tingkat Kesadaran Menuju Kebijaksanaan

a. Tingkat Pertama: Sadar Diri

“Aku ini siapa?” “Mengapa dan untuk apa aku berada di sini?” “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
(Amsal 4: 23).

b. Tingkat Kedua: Sadar Orang Lain

“Oh, dia pun manusia, tentu dia juga lelah.”
(Kebijaksanaan itu tidak pernah mau menghakimi sesama).

c. Tingkat Ketiga: Sadar Tuhan

Mengapa? Dasarnya, karena “Tuhan selalu dapat melihat. Tuhan serba tahu dan bahkan Ia pun sedang membentuk Anda.”

  1. Hukum Kesadaran Kebijaksanaan

a. Bukankah Orang Bijaksana itu Lambat Bereaksi? Karena ia selalu selektif dan tidak grusa-grusu.

b. Bukankah Orang Bijaksana itu selalu Bertanya Dulu? “Apakah hal yang Anda maksudkan?”

c. Orang Bijaksana itu Mau Diingatkan.

Mengapa? Ya, karena ia sangat sadar, bahwa dapat saja ia keliru.

Penutup

Sadarilah, bahwa dunia ini di penuhi dengan orang pintar, tapi tidak banyak orang yang sungguh sadar.

Sadar dalam Konteks Apa?

  • Ia sungguh sadar, bahwa dirinya memang sangat terbatas (errare humanum est).
  • Ia sungguh sadar, bahwa dirinya bisa melukai sesamanya.
  • Ia sungguh sadar, bahwa Tuhan tidak pernah terlambat.

Tanpa sekeping kesadaran, sejatinya, Anda pun hanyalah ibarat deru gelombang di samudera biru!

Kediri, 23 Agustus 2026