Menjadi Besar, karena Melayani dengan Rendah Hati

Dalam keluarga-keluarga zaman ini, kita sering melihat peran seorang Ibu bukan hanya sebagai pengatur rumah, melainkan juga sebagai penopang moral. Ketika Ayah sibuk bekerja dan anak-anak sibuk dengan sekolah atau gawai, sering kali Ibu yang diam-diam menjaga keseimbangan rumah itu: mendoakan, menasihati dengan lembut, dan menunjukkan kasih tanpa pamrih. Ia tidak duduk di singgasana, tapi justru jadi Ratu dengan hatinya yang melayani.
Dalam Injil, Yesus menegur para ahli Taurat dan orang Farisi yang suka mencari kehormatan dan tempat utama, tapi tidak hidup sesuai ajaran. Sebaliknya, Dia berkata, “Yang terbesar di antara kamu harus jadi pelayanmu.”
Maria, meski jadi Bunda Allah, tidak pernah mencari kemuliaan untuk dirinya, tapi tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Peringatan Santa Perawan Maria Ratu mengingatkan kita, bahwa Maria adalah ‘takhta hikmat’ tempat Allah berdiam, bukan karena kekuasaan, melainkan karena kerendahan hati dan ketaatannya.
Paus Pius XII menulis, “Maria ditinggikan sebagai Ratu, karena terlebih dahulu ia dipilih jadi hamba.” Sebagai umat Katolik, kita dipanggil bukan untuk mencari kehormatan dunia, melainkan menjadi tempat di mana kasih Allah hadir; dengan rendah hati seperti Maria, Ratu yang melayani.
“Ya, Tuhan, ajarlah kami untuk jadi besar bukan karena kuasa, melainkan karena kesetiaan dan kerendahan hati. Semoga kami meneladan Maria, Ratu yang setia pada kehendak-Mu. Tinggallah dalam hati kami, sebagaimana Engkau tinggal dalam dirinya. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.