Jadi Batu Penjuru, bukan Batu Sandungan

“Kita adalah putra-putri Allah yang diciptakan oleh Allah secitra dengan-Nya, namun kadang kita memilih untuk menjadi mirip dengan bahkan lebih kesetanan lagi dari Setan dengan membiarkan mulut dan tangan kita digunakan untuk melakukan kejahatan.”

Ketika Petrus berani menegur Yesus atas derita yang akan dilalui-Nya, Yesus bukannya memuji dan berterima kasih kepada Petrus, tapi mencelanya dengan hardikan, “Enyahlah Iblis!” Karena bagi Yesus, Petrus masih berpikir dengan cara manusia dalam menanggapi rencana Allah.

Kisah dalam Injil itu memberikan pencerahan kepada kita:

    1. Rencana dan rancangan Allah kadang tidak dimengerti pada awal dan selama menjalaninya, tapi akhirnya selalu berbuah kebaikan dan keselamatan;
    1. Tuhan tidak perlu dibela atau kita berlaku seakan juru bicara Tuhan yang bahkan mendapatkan mandat khusus untuk membela-Nya. Allah tidak memerlukan itu. Sebaliknya yang diperlukan oleh Allah adalah hidup sesuai citra kita, yakni sebagai putra-putri Allah;
    1. Sadar atau tidak, dan sengaja atau tidak, tapi kadang kita menggunakan mulut dan tangan kita untuk melakukan yang jahat kepada sesama. Sehingga, kadang kita perlu mendapatkan teguran keras dari sesama, “Enyahlah Iblis!”

Akhirnya, hiduplah sebagai putra-putri Allah agar kita menjadi batu penjuru dan bukan batu sandungan bagi sesama.

Monsignor Inno Ngutra, Pr