Pengampunan Secara Konsisten

Menurut penelitian Johns Hopkins Medicine, orang yang mempraktikkan pengampunan secara konsisten itu memiliki tekanan darah yang lebih stabil, risiko penyakit jantung yang lebih rendah, dan tingkat stres yang lebih ringan. Artinya, memaafkan itu bukan hanya tindakan rohani, melainkan juga membawa dampak nyata bagi kesehatan mental dan fisik kita. Tapi kenyataannya, memaafkan itu bukan perkara mudah, apalagi jika luka yang ditinggalkan itu dalam dan menyakitkan.
Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh.” Jawaban ini tidak sekadar matematika pengampunan, tapi menunjukkan pengampunan tidak boleh dibatasi. Allah telah mengampuni kita tanpa batas. Masalahnya, seperti perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni utang kecil dari sesama hamba, kita sering memohon pengampunan dari Allah, tapi sulit memberi pengampunan kepada orang lain.
Santo Yohanes Paulus II berkata, “Tanpa pengampunan, tidak akan ada masa depan bagi umat manusia.” Pengampunan itu bukan berarti melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka itu mengendalikan hidup kita. Ketika kita mengampuni, kita menyerahkan keadilan kepada Tuhan dan membiarkan kasih-Nya menyembuhkan.
“Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami. Berilah kami hati yang luas untuk mengasihi lebih dari sekadar membalas. Semoga damai dan belas kasih-Mu jadi kekuatan kami. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.