Jiwa Besar Pengampun

Seorang murid kelas 5 SD sambil menangis dan ketakutan, berkata kepada orangtuanya, bahwa ia tidak mau lagi masuk sekolah. Setelah menyelidiki, orangtuanya tahu, bahwa anaknya takut diejek, dihina, atau dibully oleh teman-temannya. Meski anaknya berusaha sabar dan bahkan berbagi jajan dengan mereka, tapi tetap saja disakiti. Sehingga ia ingin berhenti sekolah. Orangtuanya ikut bersedih dan berusaha untuk menyelesaikan masalah itu dengan pihak sekolah.

Pengalaman pahit murid itu jangan dianggap sekadar human error atau kekeliruan manusiawi, tapi sebuah pola pergaulan jelek di sekolah yang harus diperbaiki. Mungkin kita pernah jadi korban suatu pola perbuatan jahat seperti murid itu. Dalam menghadapi kesulitan itu, ada orang yang mampu menyelesaikannya dengan kemampuan sendiri, tapi ada yang tidak mampu, sehingga mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk mengatasinya. Cara penyelesaiannya dapat berupa pendekatan reaktif dan represif, yang berarti harus dilawan dengan kekerasan, tapi dapat juga berupa pendekatan persuasif dan kekeluargaan.

Satu ajaran Kristiani yang selalu dekat di hati para pengikut Kristus, ketika mengalami peristiwa hidup seperti ini, ialah memiliki jiwa besar sebagai seorang pengampun dan rela untuk mengampuni.

Kisah Nabi Yehezkiel menggambarkan suatu tindakan memberikan ampun melalui sebuah sikap menolak kekerasan, tapi juga bukan suatu sikap pasif atau diam. Ia mengajarkan sebuah sikap mengalah dan menjadikan diri ini sebagai korban perbuatan orang-orang jahat. Hal ini untuk mengingatkan, bahwa mereka juga pada saatnya akan mengalami kesusahan yang setimpal dengan perbuatannya itu. Cara mengampuni seperti ini sama dengan mengatakan: Tuhan ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Tuhan Yesus mengajarkan ungkapan jiwa yang besar dalam mengampuni, yaitu dengan pernyataan dan tindakan yang sangat eksplisit. Pihak yang berlaku jahat perlu melihat dan mengalami, kalau kata-kata dan tindakan Anda sungguh mengampuni. Pengampunan seperti ini tidak boleh diukur sampai berapa kali yaitu secara kuantitas, dan juga secara kualitas seperti batas kesabaran, kelelahan, kebosanan, dan menyerah. Yesus menangkap kecenderungan pembatasan ini ada pada para murid-Nya dan kita semua. Ia menegaskan, bahwa suatu jiwa yang besar dalam memberikan pengampunan ialah yang tidak memperhitungkan batasan baik jumlah maupun kualitasnya. Hal ini disebutkan-Nya sebagai pengampunan 70 kali 7 kali.

“Ya, Tuhan, lembutkan hati kami supaya dapat mengampuni tanpa batas. Apabila kami tidak kuat lagi mengampuni, berilah kami Roh-Mu yang membuat kami mampu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)