Menjadi Tanda Belas Kasih Allah

“Belas kasih Allah bukan sekadar untuk dikagumi, melainkan untuk diterima, dihidupi, dan dibagikan kepada sesama.”
Allah yang Maha Rahim, Sabda-Mu menyingkapkan satu benang emas yang teramat indah: Engkau selalu lebih dahulu mengasihi sebelum Engkau meminta kami berubah. Bahkan ketika menegur, Engkau mengingatkan dahulu betapa setianya kasih-Mu.
Melalui Nabi Mikha, Engkau mengajak umat-Mu berperkara, bukan untuk mempermalukan mereka, melainkan supaya mereka kembali mengingat segala kebaikan-Mu. Engkau telah membebaskan mereka dari perbudakan dan tidak pernah meninggalkan mereka. Teguran-Mu lahir dari belas kasih-Mu.
Dalam Injil, para ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda lagi, padahal Tanda yang terbesar sedang berdiri di hadapan mereka. Mereka mencari mukjizat, tapi menutup hati terhadap Yesus sendiri. Yesus tetap berbelas kasih. Ia memberikan tanda Yunus: misteri wafat dan kebangkitan-Nya; tanda terbesar, bahwa belas kasih-Mu selalu lebih kuat daripada dosa manusia.
Orang-orang Niniwe hanya mendengar pewartaan Yunus, tapi mereka bertobat. Ratu dari Selatan rela menempuh perjalanan jauh demi mencari hikmat. Sedangkan kami sering kali sudah menerima Sabda-Mu, menghadiri Ekaristi, menikmati begitu banyak rahmat, tapi masih saja meminta tanda-tanda baru sebelum mau percaya sepenuhnya.
Ampunilah aku, ya, Bapa, ketika aku lebih sibuk mencari bukti daripada mengenali kasih-Mu yang setiap hari hadir dalam hidupku. Bukalah mataku agar aku melihat begitu banyak tanda belas kasih-Mu: doa-doa yang Engkau jawab, pengampunan yang Engkau anugerahkan, kekuatan saat aku lemah, dan kasih-Mu yang tidak pernah berhenti mengejarku.
Ajarlah kami arti pertobatan yang sejati. Bukan hanya menyesali dosa, tapi membiarkan belas kasih-Mu mengubah cara kami hidup. Sebab Engkau telah menyatakan yang baik bagi kami: menegakkan keadilan, mencintai belas kasih, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Mu.
Semoga belas kasih yang kami terima dari Kristus mengalir kepada sesama kami. Biarlah kami lebih cepat mengampuni daripada menghakimi, lebih suka menolong daripada menuntut, lebih memilih mengasihi daripada membalas. Sehingga hidup kami sendiri jadi tanda nyata, bahwa Engkau sungguh Allah yang Maha Rahim.
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.