Sewu Kuto

“Pertemuan sesingkat apa pun
adalah obat paling manjur bagi
rindu seorang Ayah.”

Ini adalah kisah nyata perjuangan seorang Ayah yang tidak kenal lelah mengetuk pintu hati anaknya. Bertahun-tahun ia mengabaikan rasa lelah, melintasi jarak, dan meruntuhkan gengsi.
Baginya, tantangan terbesar itu bukan angka tahun yang berlalu, melainkan dinding ego dan kekecewaan yang telah membatu di dalam diri sang anak.

Meskipun terus diabaikan, harapannya menolak padam. Kalimat “ora ngapusi, isih tresno” itu jadi bukti, bahwa cinta seorang Ayah bersifat mutlak dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun.

Ada kalanya ia harus berlapang dada melihat anaknya telah tumbuh dewasa dan bahagia tanpa kehadirannya (‘kowe uwis mulyo’). Sebagai orangtua, ia ikhlas, meski kebahagiaan itu tidak melibatkan dirinya.

Kini, ia tidak lagi meminta banyak hal. la hanya merindukan satu kesempatan singkat (‘senajan sak kedeping moto’). Bukan untuk membuktikan apa-apa, melainkan untuk sebuah pelukan hangat, tatapan mata yang tulus, atau satu kata maaf.

Baginya, pertemuan sesingkat apa pun adalah obat penawar rindu (‘tombo kangen’) terbaik demi meruntuhkan dinding pemisah yang selama ini menyiksa batinnya.

Berkah Dalem.
Jlitheng/Koko Miko

Tinggalkan Balasan