“Hidup yang dibangun di atas diri sendiri itu rapuh dan akan retak. Tapi hidup yang dibangun di atas Kristus akan bertahan, meski dalam deraan badai.”
Allah yang Maha Rahim, Sabda-Mu mengingatkan kami, bahwa sesuatu yang tampak kuat di luar bisa runtuh, bila tidak lagi berakar dalam Engkau. Yerusalem tidak jatuh dalam satu hari, tapi setelah bertahun-tahun mengabaikan suara-Mu.
Demikian pula hidup rohani kami biasanya tidak hancur seketika, tapi melalui kompromi-kompromi kecil, ketidaktaatan yang halus, dan hati yang perlahan menjauh dari-Mu.
Dalam Mazmur, umat-Mu datang bukan dengan mengusung prestasi, melainkan memohon kerahiman-Mu. Mereka tidak berkata, “Lihat apa yang sudah kami lakukan bagi-Mu,” tapi, “Tolonglah, ya, Allah penyelamat kami.” Ajarlah kami datang kepada-Mu dengan kerendahan hati. Sebab tanpa belas kasih-Mu, semua karya kami hanyalah jerami.
Putra-Mu mengingatkan kami, bahwa berseru “Tuhan, Tuhan” saja tidak cukup. Jadi murid sejati itu tidak didasari kata-kata indah, penampilan religius, atau pencapaian rohani yang mengesankan. Murid sejati itu dibangun di atas penyerahan diri, ketaatan, dan hati yang sungguh mencari kehendak-Mu.
Bapa, tolong kami membangun hidup di atas Batu Karang. Tumbuhkan akar kami dalam Yesus melalui doa, Sabda-Mu, Ekaristi, dan perjumpaan yang hening dengan-Mu di kedalaman hati kami. Saat hujan badai datang, banjir pencobaan menerjang, dan hidup terasa terguncang, buatlah kami tetap berdiri teguh. Bukan karena kami kuat, melainkan karena Kristus adalah dasar hidup kami yang memberi kekuatan.
Biarlah seruan hati kami selalu:
“Yesus, jangan lihat prestasi kami, tapi pandang dan ingatlah belas kasih-Mu atas kami.”
“Ya, Yesus, Engkaulah Batu Karang kami, Pondasi kami yang kokoh dan pasti, dan Benteng Keselamatan kami. Hanya dalam Engkau kami aman berdiri. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

