Seekor tikus menemukan makanan sisa yang dibuang oleh Tuan rumah di belakang dapur. Tikus itu lalu memanggil beberapa temannya dan mereka bersuka ria bersama. Tapi saat bahagia itu berlangsung, beberapa kucing datang, dan tikus-tikus itu lari ketakutan. Kini giliran kucing-kucing itu memanfaatkan kesempatan untuk berpesta pora. Tikus hanya bersembunyi dan melihat dari jauh.
Pesta kucing-kucing itu juga hanya sesaat, karena beberapa anjing berdatangan. Sekarang anjing yang menguasai keadaan dan kucing-kucing itu berlari ketakutan. Yang menakjubkan ialah tikus-tikus itu datang dan ikut berpesta bersama anjing-anjing. Mereka sungguh berteman dengan anjing. Seekor tikus melihat dan mengejek kucing-kucing yang memandang dari jauh dengan sedih, katanya: “Sekarang kamu tahu yang sesungguhnya terjadi. Kejahatan yang kamu lakukan terhadap kami, terjadi juga terhadap kamu. Nikmati saja kesedihanmu dan kami menikmati pesta.”
Perkataan dan ejekan tikus itu merefleksikan yang digambarkan oleh Injil Matius. Dikatakan begini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Kita juga bisa menempatkan pernyataan ini sejajar dengan ajaran cinta kasih Kristus yang mengatakan, bahwa kita ingin dicintai oleh sesama seperti kita mencintai mereka.
Santo Fransiskus dari Assisi meninggalkan kita warisan rohaninya yang terkenal tentang nyanyian cinta kasih Allah. Penggalan syairnya kira-kira seperti ini: supaya dimengerti, maka Anda harus mengerti, dicintai, maka mencintailah, dibantu, maka membantulah.
Hal ini bukan suatu ajaran tentang balas-membalas perbuatan baik. Sebenarnya ini adalah sebuah ketulusan. Agar hidup ini jadi bermakna, kita harus dapat berbagi dari diri kita kepada orang lain, terutama mereka yang di sekitar kita. Misalnya kita memberikan salam atau tersenyum kepada saudara dan saudari yang kita jumpai tiap hari. Ini adalah bagian dari hidup yang tulus. Perlakukan yang baik terhadap sesama dalam kewajaran dan berperi kemanusiaan, dengan sendirinya berbuah pada kebaikan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita.
Jika kita berbuat baik pada sesama, demikian juga nanti di dalam kesulitan dan kekurangan, mereka akan membantu kita. Hal ini merefleksikan kehidupan kita bersama yang memiliki keadilan.
Jika ketulusan kita selalu berjalan bersama dengan keadilan, maka kita memang sedang menciptakan suatu kehidupan bersama yang damai dan nyaman seperti yang dikehendaki Tuhan dari kita.
“Ya, Yesus yang baik, penuhilah kami dengan semangat cinta kasih-Mu, sehingga kami dapat berbuat kasih tanpa pamrih dan rela berkorban. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

