Injil Matius menyebutkan, bahwa di dalam mimpi seorang Malaikat berbicara begini: “Yosef, putra Daud, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu. Dia hamil itu dari Roh Kudus, bukan dari dirimu dan dari siapa-siapa. Anak yang akan dilahirkan oleh Maria, engkau mesti beri nama Yesus.”
Untuk memenangkan hati Yosef yang kecewa dan malu, karena mengingat calon istrinya, Maria, telah kedapatan hamil, Tuhan mempunyai strategi. Malaikat yang disuruh oleh Tuhan harus pintar-pintar membawa pesan, sehingga Yosef harus dibuat mengerti benar yang sedang diperbuat Tuhan baginya. Malaikat itu langsung mengunci Yosef dari awal pembicaraan, dengan menyapanya sebagai anak dari keturunan Daud. Jika mengaitkannya dengan Daud, Raja yang agung dan mulia, sudah pasti sebagai keturunannya, ia tidak bisa mengelak. Ia harus patuh dan taat.
Kita juga sering berbuat seperti itu. Jika nama orang besar atau orang yang sangat sakti di dalam keluarga dipakai untuk meyakinkan kita, tentu kita langsung mengamini. Kita tumbuh, berkembang, dan dididik untuk selalu mengikuti orang yang besar, mulia, agung, dan suci. Ketika, misalnya kita ingin berbohong atau mengungkapkan reaksi yang negatif, orang-orang yang luar biasa tersebut dihadirkan untuk membuat dirimu berpikir ulang tentang tindakanmu tersebut.
Di sini Yosep sangat ahli untuk hari Natal, karena ia ikut menyiapkan kita, supaya dapat mengontrol dan menguasai diri secara tepat dan baik. Kita sudah merayakan hari Minggu suka cita, kiranya kegembiraan akan hari Natal yang sudah mendekat, tidak membuat kita jadi terlalu gembira, sehingga bisa saja kita lupa akan hal yang esensial, yaitu batin dan roh kita yang perlu dimurnikan.
Suka cita kita dalam menyongsong hari Natal, perlu dilengkapi dengan tetap taat kepada Tuhan dalam hal kewaspadaan yang tinggi, supaya kita tidak terbawa oleh pengaruh atau godaan Setan yang membawa kita ke dalam dosa.
Yosef sangat ahli untuk hari Natal, dan ia dapat mengajarkan kita dalam hal siap mengambil risiko dan teguh pada keputusan yang benar. Sebagai pribadi dan bersama, kita tentu akan membuat keputusan-keputusan yang membantu pertumbuhan iman kita dalam merayakan hari Natal dan Tahun Baru ini. Kiranya keputusan yang diambil secara pribadi maupun bersama itu menghadirkan sikap iman yang benar. Meski ada risiko yang jadi konsekuensi keputusan tersebut, tapi risiko itu adalah untuk kebaikan hidup kita bersama.
“Ya, Tuhan, semoga kami meneladani Santo Yosef dalam persiapan hari raya Natal ini, dengan mampu menguasai diri dan teguh pada iman kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

