Pertemuan pertama APP (Aksi Puasa Pembangunan). Oleh Kaling diawali dengan pertanyaan refleksi (kelompok), “Apa yang mendorong kita melakukan hal baik, terutama kepada mereka yang menderita dan dipandang rendah?”
Banyak versi jawaban yang bagus, beda-beda sesuai perspektif dari kelompok. Jawaban salah satu kelompok adalah: “Karena Allah lebih dulu telah mencintai kita, bukan karena kita pantas, melainkan agar kita aman.” Caranya Allah menyebur jadi satu dengan manusia yang berada dalam banjir dosa. Maka lahirlah Yesus di tengah kita.
Dalam tugas mulia itu Yesus dibully, dibenci, direndahkan, dièjèk, ditampar, dipukul, dirajam, jatuh, lantas disalibkan. Pernahkan Yesus bertanya: mengapa? Hanya sekali, ketika Dia ditampar seorang prajurit (kalau salah katakan salah-Ku, jika tidak mengapa kau tampar Aku), itu pun bukan karena Dia membela diri, karena merasa disalahkan atau dibully. Tapi satu penegasan, bahwa “Aku ini Raja, yang mau begini demi kalian.” Yesus tidak takut disebut hanya pencitraan, ‘social climbing’. Bahkan ditampar pun Yesus tidak membela diri.
Yesus adalah teladan sejati seorang hamba Allah, pelayan Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja. Dengan cara itu Yesus berpesan: “Kalau mau ikut Aku jangan cèngèng.” Sinar ke-Allah-an Yesus tidak luntur, justru makin benderang dengan kebangkitan-Nya
Akhir-akhir ini ada sosok Gubernur yang ‘ajur ajèr’, nyebur berbaur dengan rakyat dalam banjir sampah. Apakah Gubernur itu luntur? Tidak. Paling dikatakan: “Ah, itu pencitraan.” Tapi dia cuèk, karena percaya, bahwa kebaikan yang sejati itu tidak akan pernah sia-sia. Please, jangan cèngèng.
Itulah penjelasan refleksi pertanyaan pertama pada APP (Aksi Puasa Pembangunan) 1.
Salam sehat.
…
Jlitheng

