“Kerahiman Allah tak mengenal batas. Kita diselamatkan seperti Yunus dari dalam laut, disembuhkan seperti orang yang tergeletak di jalan, dan dipanggil jadi saluran belas kasih-Nya.”
Seperti Yunus, kami sering menolak panggilan Tuhan dan memilih lari menjauh. Tapi Tuhan tidak meninggalkan kami. Dalam badai, di kedalaman lautan, Tuhan mengulurkan tangan-Nya. Dari perut ikan Yunus berseru, dan Ia mendengarkannya. Dari lubang maut Ia mengangkatnya kembali.
Melalui Injil, Yesus menyingkapkan inti hukum-Nya dengan cara yang menggetarkan hati. Ketika seorang ahli Taurat bertanya, Yesus menuntunnya untuk menemukan jawabannya sendiri: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Ketika ia bertanya, “Siapakah sesamaku?” Yesus menyingkapkan dalam perumpamaan itu, bahwa kita bukanlah sumber belas kasih pertama-tama, melainkan kita seperti si korban yang terluka dan membutuhkan belas kasih.
Ya, Yesus, Sang Samaria Baik yang sejati. Ia datang mendekat, ketika kami dilukai dosa dan hampir binasa. Ia membalut luka kami, mengurapi dengan minyak rahmat, dan mencurahkan bukan hanya anggur, tapi darah-Nya yang Maha Kudus. Ia mempercayakan kami kepada penginapan Gereja-Nya, hingga Ia datang kembali untuk kami. Dalam-Nya, kasih Bapa yang tak terbatas jadi begitu dekat.
Tuhan, setelah menerima belas kasih ini, jangan biarkan kami menyimpannya sendiri. Bukalah mata kami untuk melihat mereka yang tergeletak di jalan hidup kami: pasangan, anak, saudara, orangtua, sahabat, bahkan orang asing dan musuh kami. Teguhkan hati kami untuk peduli dan membawa mereka ke dalam pelukan Gereja-Nya, agar mereka merasakan kasih karunia.
Tuhan, kasih-Mu tanpa batas. Jadikan hati kami seperti hati-Mu: rela mengampuni, rindu melayani, dan berani mengasihi. Semoga kami sungguh jadi sesama bagi semua orang, dan jadi saksi nyata belas kasih-Mu.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

