Oleh : Jlitheng
Amsal 17:17 mengatakan, bahwa seorang sahabat bukan hanya menjadi seorang teman saja, melainkan seorang yang menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.
Sore kemarin kami (istri dan saya) berjumpa Sahabat Abadi di bait-Nya yang suci lewat perjamuan Ekaristi Jumat pertama.
Homilinya tentang menilai. Bahwa dalam menilai sesuatu setiap orang menilai berdasar perspektif masing-masing. Ringkasnya: perspektif pribadi itu belum tentu benar maka jangan berhenti pada yang dilihat oleh mata lahiriah saja.
Kami kemarin sore duduk di bangku paling belakang. Semua kursi penuh. Dari tempat duduk itu saya lurus bisa memandang salib yang dibuat dari kayu jati asal Kediri yang berusia 100 tahun. Corpus (tubuh) salib itu memang besar sekali, kedua lengan kekar dan panjang, kaki agak kecil, kepalanya besar dan leher โbentegโ. Secara anatomi, kesan pribadi saya agak tidak sreg.
Sejak gereja ini diberkati, 11 Juni yang lalu, kami selalu pergi misa ke sana. Baru di gereja ini pandangan saya selalu tertuju pada salib, dan pikiran serta hati ini selalu menuntunku melihat โPribadiโ yang di salib, yakni Yesus Tuhan bukan kayu salib dan corpusnya. Karena Pribadi itulah saya datang ke gereja, untuk ikut misa, mengenang lagi peristiwa sengsara dan wafat-Nya di salib untuk keselamatan kita. Dalam misa itu, saya yang tak pantas ini, dibolehkan menerima Yesus yang di salib itu dalam rupa Hosti.
Dalam sejarah (iman) gereja, kita bisa belajar dari yang tidak sempurna, kita bisa melihat Tuhan. Bunda Theresa melihat Tuhan dalam diri anak-anak yang dibuang. Kita juga dapat melihat dalam diri anak cacat, miskin, pengamen, di setiap lampu merah. Kita juga dapat melihat Yesus, ketika kita memandang salib di atas altar gereja Sanberna yang baru. Saya yakin mataku tidak menipu batinku.
Tetap hangat dalam persaudaraan.
Jlitheng

