Dalam Injil Markus bab 3, Yesus baik ke bukit dan memanggil orang-orang yang Ia kehendaki. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai-Nya, diutus, dan untuk menerima kuasa dalam karya pewartaan. Tindakan ‘menetapkan’ ini bukan sekadar memilih, tapi sebuah keputusan Ilahi yang penuh kuasa dan makna.
Ketika Allah bertindak menetapkan, Ia sedang mengajar manusia tentang otoritas yang benar: kuasa untuk memimpin, mengatur, menggembalakan, dan mempersatukan. Kepemimpinan Allah tidak pernah bertujuan menindas, melainkan menata umat agar berjalan dalam kebenaran, terpelihara dalam kasih, dan bertumbuh dalam kesatuan yang kuat.
Kita melihat pola yang sama dalam sejarah keselamatan bangsa Israel. Ketika Allah menetapkan Daud sebagai Raja, bukan berarti Ia hanya ‘mengangkat orang baru’, tapi juga membuka ruang agar Saul mundur dari kepemimpinan yang sudah tidak selaras dengan kehendak-Nya. Allah tidak sekadar mengganti pemimpin, namun membentuk arah baru bagi umat-Nya, sehingga perjalanan sejarah keselamatan tetap selaras dengan kehendak Allah. Daud ditetapkan bukan karena kehebatan manusiawinya semata, melainkan karena ia bersedia dibentuk jadi Gembala bagi bangsa itu. Dari sini kita belajar, bahwa penetapan Allah selalu mengandung tujuan rohani: menuntun umat kepada pertobatan, memulihkan tatanan, dan mengarahkan kembali kehidupan kepada rencana-Nya.
Demikian pula, ketika Yesus menetapkan dua belas Rasul. Mereka bukan dipilih karena sempurna, melainkan karena dipanggil untuk masuk dalam proses pembentukan. Tugas pertama para Rasul bukan langsung melakukan karya besar, melainkan ‘menyertai Yesus’: jadi murid yang baik, setia kepada Sang Guru, dan terus belajar dari hati-Nya. Kesetiaan murid-murid inilah pondasi utama bagi pelayanan. Sebab seseorang tidak dapat jadi pewarta Injil tanpa lebih dahulu hidup dalam persekutuan dengan Kristus. Pelayanan yang sejati lahir dari hati yang mengenal Tuhan, bukan hanya dari keterampilan atau jabatan.
Setelah jadi murid, barulah para Rasul diutus untuk melanjutkan karya Yesus di dalam dunia. Namun pengutusan itu mencapai kepenuhannya, ketika Roh Kudus dicurahkan pada peristiwa Pentakosta. Dari sana Gereja lahir sebagai persekutuan yang hidup, bukan sekadar organisasi. Para Rasul jadi batu dasar Gereja. Melalui mereka, tanggung jawab membangun umat Allah dimulai: mewartakan Injil, melayani sakramen, menjaga kesatuan, serta menggembalakan umat dalam kasih. Tugas ini kemudian diteruskan oleh Gereja sepanjang zaman, dengan tanggung jawabnya yang misioner dan apostolik: diutus untuk dunia, namun tetap berakar pada iman para Rasul.
Gereja seperti mata air dari Kristus dan mengalir melalui para Rasul untuk menghidupkan banyak tempat yang kering. Maka kita dipanggil untuk jadi murid yang setia, dan jadi bagian dari Gereja yang diutus untuk menghadirkan Kristus bagi dunia.
“Ya, Tuhan Yesus, kuatkanlah kami sebagai anggota Gereja-Mu dan tuntunlah kami di dalam jalan kebenaran dan kehidupan, agar Gereja ini jadi tanda kemuliaan-Mu yang menguasai seluruh dunia. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

