“Api yang dinyalakan Yesus bukan untuk membakar habis, melainkan untuk menyucikan dan mengubah. Ia membakar segala belenggu, hingga yang tersisa hanyalah kasih.”
Sabda Yesus mengguncangkan hati kami: “Aku datang untuk menyalakan api di bumi; betapa Kuingin api itu telah menyala!”
Api ini bukanlah api penghancur, melainkan nyala kasih-Mu sendiri. Roh Kudus yang mengubah, yang memurnikan, dan yang menghidupkan.
Ya, Allah, Putra-Mu Yesus adalah Nabi karena Ia mengajar, Raja karena Ia memimpin, dan Imam karena Ia menyalakan api kekudusan. Melalui baptisan, kami Engkau undang jadi pembawa api itu: jadi saluran hidup Ilahi yang menyalakan dunia dengan kasih dan kebenaran.
Tuhan Yesus, Engkau rela dibaptis dalam penderitaan Golgota agar baptisan kami bukan sekadar upacara, melainkan percikan hidup Ilahi yang terus menyala dan bertumbuh jadi api kekudusan sejati.
Kami ingin setia kepada-Mu, meski kesetiaan itu kadang menimbulkan perpecahan, bahkan dalam relasi yang kami cintai. Ketika kesetiaan kepada-Mu menuntut keberanian,
tolong kami, Tuhan, untuk tidak mundur. Ajarlah kami tahu kapan harus bersikap lembut atau teguh hati, mengalah atau harus bersikap tegas: “Cukup, di sini aku berdiri bersama Kristus.”
“Tuhan, Engkau pusat hidupku.
Jauhkan aku dari sikap yang jadi batu sandungan bagi keluargaku.
Berilah aku kebijaksanaan untuk berbicara dengan kasih, dan kekuatan untuk menempatkan Engkau di atas segalanya.
Semoga api-Mu membakar setiap keakuan dalam diriku, hingga yang tersisa hanyalah cinta-Mu yang murni. Amin. “
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

