Oleh : Rm. Petrus Santoso, SCJ.
| Red-Joss.com | Seorang Teolog Katolik, Hans Urs Von Baltazar mengatakan, “What you are is God’s gift to you, what you become is your gift to God.” Cocok banget. Mudah dipahami, dan itu benar.
Hadiah dari Tuhan itu luar biasa. Kita diberi hidup. Dengan kehidupan ini, kita bisa menjalani banyak hal.
Apa adanya Anda adalah pemberian Tuhan bagi Anda. Tapi menjadi apa Anda itu adalah pemberian Anda kepada Tuhan.
Ada orang yang bisa menikmati hidupnya, tapi ada yang tidak bisa menikmati hidupnya.
Ada orang yang bersyukur dengan hidupnya, tapi ada juga yang tidak bisa bersyukur dengan hidupnya.
Ada orang yang bisa menikmati hidupnya dengan tenang dan damai, tapi ada juga yang selalu gelisah dan tidak damai.
Ada orang yang bisa dengan cepat menyelesaikan persoalannya, tapi ada juga yang berlarut-larut dan tidak pernah bisa selesai, justru persoalannya kian menumpuk.
Ada orang yang mudah berdamai setelah ada perselisihan, tapi ada yang memilih menyimpan dendam hingga di bawa mati.
Masing-masing orang dengan cara yang unik untuk mengisi hidupnya. Padahal prinsip dasarnya sama: “Semua orang ingin hidup bahagia.” Tapi, ketika berbicara tentang kriteria kebahagiaan, jadi berbeda-beda ukurannya.
Anugerah Tuhan sangat luar biasa, sehingga kita pun harus memberi hadiah pada Tuhan harus besar pula. Tapi apa yang kita berikan untuk Tuhan?
Ketaatan. Ini harus nomor satu. Ini harus melebihi segalanya. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Dari ayat ini banyak orang telah membuktikannya.
Kesetiaan. Ini harus nomor satu untuk mengisi roh hidup kita. Tuhan setia menyertai kita, sehingga kita harus setia pula mengikuti-Nya.
Percaya. Ini harus nomor satu, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sekali kita percaya dengan Tuhan, tidak diizinkan menyembah yang lain. Bahkan Tuhan Yesus menyebut, “tidak mungkin kita ‘menyembah’ dua Tuan,” yaitu Tuhan dan Mamon.
Mencintai. Ini harus nomor satu, dan dibuktikan setiap hari cara kita mempraktekkan “Hukum Cinta Kasih” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Kenapa semua kok nomor satu? Karena Tuhan tidak boleh dinomor- duakan, tiga, dan seterusnya. Untuk Tuhan harus nomor satu!
Semoga kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang terpercaya di hadapan Tuhan dan kita setia menjalaninya.
Kita tidak usah saling iri hati, sebab Tuhan sudah memberi dengan ukuran, kemampuan dan tanggung-jawab masing-masing. Kita tentu ingat perumpamaan tentang talenta. Yang diberikan tidak sama, tapi cara untuk menjalankan itu harus sama: maksimal dan penuh tanggung-jawab. Tuhan akan ‘menghitung semuanya’ itu dan memberi ‘bonus’ kejutannya. Semua ditambahkan pada kita. Karena Tuhan Penguasa Mahabesar.
“The more you know God, the more eager you are to serve God” (Blessed Adolph Dolping).
Rm. Petrus Santoso SCJ

