Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Memikirkannya, jauh lebih berat daripada mengerjakannya.”
(Ajahn Brahm)
…
Apa yang Terberat dalam Hidup ini?
Saat menuliskan refleksi ini, saya teringat dengan sebuah nasihat ini, “Janganlah kamu selalu mau memikirkan apa persoalan hidupmu, namun sebaliknya, lakukan saja pekerjaanmu!”
Kisah dari Wihara Budhis
Saya teringat sebuah kisah berjudul, “Yang Terberat dalam Hidup,” dari buku โSi Cacing dan Kotoran Kesayangannya,โ karya Ajahn Brahm.
Demikian Kisah itu
Ada sebuah tradisi spesial dalam Wihara Budhis, bahwa di malam Minggu, para Biksu selalu mengadakan meditasi sepanjang malam hingga pagi hari.
Di suatu pagi, setelah semalaman bermeditasi, tentu para Biksu itu sangat lelah dan mengantuk. Namun, apa yang terjadi dengan seorang Biksu yunior ini?
Kepala Wihara memanggilnya dan menyerahkan setumpuk besar jubah kotor untuk segera dicuci. Hal ini adalah tradisi dalam Wihara.
Uniknya, bahwa cucian spesial ini harus dilakukan secara tradisional khas para Biksu. Antara lain, air harus ditimba dari sumur, mendidihkan air harus menggunakan kayu bakar. Dari bilah-bilah kayu itu akan mengeluarkan sari wanginya sebagai deterjen. Lalu jubah-jubah itu harus dikeringkan di bawah sinar matahari. Hal itu ternyata amat merepotkan.
Di saat saya mendekati Biksu yunior itu dan berniat untuk membantu, terdengar umpatan serta ocehan pedas dari mulut busuk Buksu yunior yang asal Brisbane, Australian ini.
“Tidak bisakah kepala Wihara menunggu sampai besok? Tidaklah dia sadar, bahwa saya tidak tidur semalaman? Aku tidak jadi Biksu untuk mencuci, bukan?”
Saya, selaku Biksu yang lebih senior dapat memahami rentetan keluhan, bahkan umpatan manusiawi ini.
Dengan lembut saya berbisik ke daun telinganya, “Saudara mudaku, memikirkannya, jauh lebih berat daripada mengerjakannya.”
Dia terdiam seketika. Sesaat dia meneruskan pekerjaannya dalam hening. Saya lalu beranjak untuk tidur.
Belakangan, pada hari itu juga dia menemui saya sambil mengucapkan terima kasih, karena telah ikhlas membantunya.
Saya menduga, rupanya Biksu yunior ini memahami makna dari bisikan lembut saya ke telinganya di saat dia sedang mengumpat.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya).
“Memikirkan adalah bagian yang terberat.”
Ternyata, setelah dia berhenti mengumpat dan mulai mencuci, tampak sama sekali tidak ada masalah.
Konklusi apa yang dapat Anda peroleh sebagai sebuah pegangan dalam hidup yang menantang ini?
Benarkah, bahwa dalam menghadapi aneka tuntutan dan tantangan hidup ini, hendaklah Anda melakukan pekerjaan itu dan berhenti untuk terus memikirkannya!
“Janganlah gelisah hatimu.”
Lakukan saja apa yang seharusnya kamu lakukan, dan berhentilah mengumpat!”
…
Kediri,ย 8ย Oktoberย 2024

