Di dalam dunia ini yang dikuasai oleh pasar, jabatan, uang dan pengaruh, seseorang yang lemah jasmani atau lemah rohani terhalang untuk jadi bahagia. Hidup di dalam dunia ini sangat membutuhkan kepandaian, kekuatan, kekuasaan, kerja keras dan uang yang cukup untuk menciptakan suatu hidup bahagia. Orang yang tidak memiliki kualitas ini pasti hidupnya tidak bahagia.
Pada umumnya pikiran, hati dan kehendak kita dibentuk oleh standar-standar dunia ini. Orang-orang di dalam dunia ini bercita-cita untuk jadi kaya materi, memiliki pengetahuan dan teknologi yang memadai, mengontrol atau menguasai orang lain, dan jadi pemenang dalam aneka macam kompetisi. Hampir tidak ada orang yang ingin jadi orang lemah, sakit, dilupakan, diperlakukan tidak adil, dan yang jadi korban penghinaan atau kekerasan.
Kalau misalnya, pernah ada suatu orientasi kehidupan yang mengarahkan orang-orang dunia ini untuk memilih dan memeluk semua keadaan yang lemah atau tidak berdaya, hal itu hanya terdapat pada orang-orang yang beriman. Secara khusus, iman Kristen yang bersumber dan berpatokan pada Yesus Kristus sungguh membalikkan standar atau ukuran yang dipakai oleh dunia ini. Iman ini mencerahkan dan menguatkan orang-orang beriman supaya tidak lari dari kelemahan, sakit, derita, penganiayaan dan kematian. Karena dengan cara ini, mereka sungguh bersama dengan Yesus Kristus sendiri yang pernah mengalami penghinaan, sengsara, derita, dan kematian.
Iman yang semakin meyakinkan orang-orang beriman supaya bertahan dalam keadaan yang lemah dan menderita ini. Mereka diyakinkan, bahwa kelemahan dan derita ini tempatnya di dunia. Selagi seorang manusia berada di dalam dunia, ia tidak bisa luput dari keadaan dan pengalaman yang lemah, sakit, dan derita. Hanya setelah meninggalkan dunia ini melalui kematian, ia berhak untuk masuk dan ambil bagian dalam kebahagiaan kekal di dalam Allah Tritunggal Suci.
Semua bacaan pada hari Minggu ini ingin menguatkan keyakinan kita orang beriman, tentang bagaimana kita seharusnya tetap bertahan dan terus menikmati keadaan atau pengalaman kita yang lemah, sakit, dan menderita. Ketika kita menikmati dan menjalani kehidupan dunia ini yang membawa sakit dan kekurangan, seharusnya kita bahagia. Kemampuan kita untuk menerima semua itu dengan tenang, damai dan gembira merupakan tanda pengalaman kebahagiaan itu.
Berangkat dari kemampuan ini, kita diberi suatu penguatan iman, bahwa harapan kita untuk mendapat kebahagiaan yang sempurna adalah nyata dan tak terbantahkan. Tuhan Yesus sendiri dan orang-orang kudus sudah menyiapkan itu untuk kita semua.
“Ya, Tuhan yang Mahakuasa, berkatilah kami agar senantiasa kuat dalam iman dan pengharapan, meskipun kami senantiasa juga mengalami aneka jenis penderitaan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

