“Maaf! Apa pun reaksi kita pada mereka yang makan/minum sambil berjalan itu menunjukkan cermin kepedulian kita pada keluarga.” -Mas Redjo
Jangan pernah bilang, bahwa pemandangan tersebut hal biasa dan urusan masing-masing pribadi. Padahal sejatinya menunjukkan jatidiri kita yang egois dan individualis.
Tidak harus tersinggung dan sakit hati pula, karena hal itu fakta. Lebih bijak, jika kita berefleksi untuk pembaruan diri.
Orang yang makan/minum sambil berjalan di tempat umum itu (maaf) tidak sopan dan berbahaya. Karena fokus ke makanan, minuman, atau bermain hp, kita tidak berhati-hati dan melihat jalan. Akibatnya, kita tersandung, terperosok, nabrak pohon, dan bisa celaka.
Saya sendiri pernah melihat teman yang tersedak makanan, karena sambil ngobrol. Bahkan yang parah adalah duri ikan yang tersangkut di tenggorokan, hingga berurusan dengan dokter untuk mengambil duri ikan itu.
Jangan pernah menganggap hal itu sepele dan remeh, jika kebablasan dan jadi kebiasaan buruk, kita yang rugi, bahkan menyesal belakangan juga tiada guna. Alangkah bijak, karena peduli kita mengingatkan dengan hati.
Pengalaman saya adalah, ketika kami sekeluarga pergi berkunjung ke rumah famili. Karena anak yang mengemudi sering bermain hp dan sulit diingatkan, saya dengan tegas minta diturunkan di jalan. Lebih baik saya ngegrab atau naik angkutan umum. Saya juga meminta ke anak untuk tidak mengulanginya, karena berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Sebagai orangtua, kita jangan lelah untuk peduli dan mengingatkan anak akan perihal kesopansatunan, adab, dan tertib aturan. Karena kita peduli dan mengasihi anak-anak agar mereka pandai membawa diri.
Alangkah bijaknya, jika kita tidak sekadar mengingatkan anak, tapi memberi contoh keteladanan itu dalam hidup keseharian agar mengakar kuat di hati anak. Karena buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Mas Redjo

