Hari ini Gereja merayakan pesta Santo Tomas Rasul, murid yang sempat ragu, tapi tidak berhenti di dalam keraguannya. Dalam dirinya, kami melihat diri kami sendiri: penuh kehati-hatian, cenderung skeptis, dan sering berkata seperti Tomas: “Sebelum aku melihat… aku tidak akan percaya.”
Namun Engkau tidak menolak Tomas. Engkau justru datang menghampiri dan mengundangnya untuk menyentuh luka-luka-Mu, dan ia mengalami kehadiran Putra-Mu yang bangkit, bukan sekadar ide, melainkan sebagai Pribadi yang hidup.
Saat itu juga, kegelapan berubah jadi terang, keraguan berubah jadi sembah sujud: “Ya, Tuhanku dan Allahku!”
Tuhan Yesus, betapa lembutnya Engkau menanggapi Tomas. Engkau menunjukkan, bahwa iman bukanlah lawan dari akal sehat, melainkan jawaban terhadap kerahiman-Mu. Sama seperti Engkau hadir untuk Tomas, Engkau juga hadir bagi kami hari ini.
Kami tidak selalu cepat percaya. Luka batin, kecewa, atau beban hidup itu kadang menutupi sukacita Paskah. Namun Engkau tetap datang. Engkau tetap bersabda: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Engkau tetap mengutus: “Pergilah.”
Saat kami percaya, seperti Tomas, Engkau bangun kami jadi bagian dari bangunan rohani-Mu: umat yang hidup, kediaman Allah, yang didirikan di atas dasar para Rasul. Kami bukan orang asing. Kami adalah milik-Mu.
Tuhan, tolong kami untuk percaya meski tidak melihat. Untuk berkata “Ya,” meskipun hati kami gemetar.
Izinkan kami berdoa seperti Tomas: “Ya, Tuhanku dan Allahku.”
Biarlah doa itu jadi awal dari misi hidup kami, agar kami ikut membawa kasih dan kerahiman-Mu ke ujung dunia.
Amin.
Refleksi:
Iman sejati bukan dimulai saat semua pertanyaan kita terjawab, tapi saat kita berani percaya kepada Dia yang terluka demi kita.
*HD *
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

