Alihbahasa: Peter Suriadi
Saya menyapamu, para awak media dari seluruh dunia. Terima kasih atas karya yang telah kamu lakukan dan terus lakukan pada hari-hari ini, yang sungguh merupakan saat penuh rahmat bagi Gereja.
Dalam ‘Khotbah di Bukit’, Yesus menyatakan, “Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat 5:9). Ini adalah Sabda Bahagia yang menantang kita semua, tetapi khususnya relevan bagimu, yang memanggil kamu masing-masing untuk mengupayakan komunikasi yang berbeda, komunikasi yang tidak mencari konsensus dengan cara apa pun, tidak menggunakan kata-kata agresif, tidak mengikuti budaya persaingan dan tidak pernah memisahkan pencarian kebenaran dari kasih yang harus kita cari dengan rendah hati. Kedamaian dimulai dari diri kita masing-masing: dalam cara kita memandang orang lain, mendengarkan orang lain, dan berbicara tentang orang lain. Dalam pengertian ini, cara kita berkomunikasi menjadi sangat penting: Kita harus mengatakan “tidak” kepada perang kata-kata dan gambar, kita harus menolak paradigma perang.
Oleh karena itu, hari ini perkenankan saya menegaskan kembali solidaritas Gereja dengan awak media yang dipenjara karena berupaya melaporkan kebenaran, dan dengan kata-kata ini saya juga meminta pembebasan awak media yang dipenjara ini. Gereja mengakui dalam kesaksian-kesaksian ini – saya memikirkan mereka yang melaporkan perang bahkan dengan mengurbankan nyawa mereka – keberanian mereka yang membela martabat, keadilan, dan hak orang untuk memperoleh informasi, karena hanya individu yang terinformasi yang dapat membuat pilihan bebas. Penderitaan awak media yang dipenjara ini menantang hati nurani bangsa-bangsa dan masyarakat internasional, menyerukan kepada kita semua untuk menjaga karunia kebebasan berbicara dan pers yang berharga.
Terima kasih, sahabat-sahabat terkasih, atas pelayananmu terhadap kebenaran. Kamu telah berada di Roma beberapa pekan terakhir ini untuk meliput tentang Gereja, keberagamannya dan, pada saat yang sama, kesatuannya. Kamu hadir selama liturgi Pekan Suci dan kemudian meliput kesedihan yang dirasakan atas kematian Paus Fransiskus, yang meskipun demikian terjadi dalam terang Paskah. Iman Paskah yang sama itu menarik kita ke dalam semangat Konklaf, di mana kamu bekerja keras selama berhari-hari. Namun, bahkan pada kesempatan ini, kamu berhasil menceritakan keindahan kasih Kristus yang mempersatukan dan menjadikan kita satu umat, dibimbing oleh Sang Gembala yang baik.
Kita hidup di masa yang sulit untuk dilalui dan diceritakan kembali. Masa-masa itu menghadirkan tantangan bagi kita semua, tetapi kita tidak boleh menghindarinya. Sebaliknya, masa-masa itu menuntut agar kita masing-masing, dalam peran dan pelayanan kita yang berbeda, tidak pernah menyerah pada keadaan yang biasa-biasa saja. Gereja harus menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh zaman. Dengan cara yang sama, komunikasi dan awak media tidak ada di luar waktu dan sejarah. Santo Agustinus mengingatkan hal ini ketika ia berkata, “Marilah kita hidup dengan baik, dan zaman akan menjadi baik. Kita adalah zaman” (Wacana 311).
Oleh karena itu, terima kasih atas apa yang telah kamu lakukan untuk bergerak melampaui stereotip dan klise yang sering kita gunakan untuk menafsirkan kehidupan kristiani dan kehidupan Gereja itu sendiri. Terima kasih karena kamu telah menangkap esensi siapa diri kita dan menyampaikannya ke seluruh dunia melalui setiap bentuk media yang memungkinkan.
Saat ini, salah satu tantangan terpenting adalah mempromosikan komunikasi yang dapat membawa kita keluar dari “Menara Babel” yang terkadang kita alami, keluar dari kebingungan bahasa yang tidak penuh kasih yang sering kali bersifat ideologis atau partisan. Oleh karena itu, pelayananmu, dengan kata-kata yang kamu gunakan dan gaya yang kamu adopsi, sangat penting. Sebagaomana kamu ketahui, komunikasi bukan hanya penyampaian informasi, tetapi juga penciptaan budaya, lingkungan manusiawi dan digital yang menjadi ruang untuk dialog dan diskusi. Dengan melihat bagaimana teknologi berkembang, misi ini menjadi semakin penting. Saya berpikir khususnya tentang kecerdasan buatan, dengan potensinya yang sangat besar, yang bagaimanapun juga membutuhkan tanggung jawab dan kebijaksanaan untuk memastikan bahwa ia dapat digunakan untuk kebaikan semua orang, sehingga dapat memberi manfaat bagi seluruh umat manusia. Tanggung jawab ini menyangkut setiap orang sesuai dengan usia dan perannya dalam masyarakat.
Sahabat-sahabat terkasih, seiring berjalannya waktu, kita akan semakin mengenal satu sama lain. Kita telah mengalami – dapat kita katakan bersama – hari-hari yang sungguh istimewa. Kita telah ambil bagian dalam hari-hari itu melalui berbagai bentuk media: TV, radio, internet, dan media sosial. Saya sungguh berharap agar kita masing-masing dapat mengatakan bahwa hari-hari ini telah menyingkap sedikit misteri kemanusiaan kita dan meninggalkan kita dengan kerinduan akan cinta dan kedamaian. Karena alasan ini, saya ulangi kepadamu hari ini undangan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini: marilah kita melucuti komunikasi dari segala prasangka dan sakit hati, fanatisme dan bahkan kebencian; marilah kita membebaskannya dari agresi. Kita tidak membutuhkan komunikasi yang keras dan memaksa, melainkan komunikasi yang mampu mendengarkan dan menyatukan suara-suara yang lemah yang tidak memiliki suara. Marilah kita melucuti kata-kata dan kita akan membantu melucuti dunia. Komunikasi yang dilucuti dan melucuti memungkinkan kita untuk berbagi pandangan yang berbeda tentang dunia dan bertindak dengan cara yang konsisten dengan martabat manusiawi kita.
Kamu berada di garis depan dalam meliput konflik dan aspirasi untuk perdamaian, situasi ketidakadilan dan kemiskinan, dan kerja diam-diam dari begitu banyak orang yang berjuang untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Karena alasan ini, saya memintamu untuk memilih secara sadar dan berani jalur komunikasi yang mendukung perdamaian.
Terima kasih semuanya dan semoga Allah memberkatimu!
Bapak Peter Suriadi

