“Ibarat lampu, wasiat itu harus diisi minyak agar tetap menyala dan jadi penerang hidup.” -Mas Redjo
…
Hal itu yang saya lakukan dalam hidup keseharian agar cinta kami tidak padam, meski suami telah mendahului berpulang ke hadirat-Nya.
Saya sentimental? Tidak! Saya juga tidak cengeng, dihanyutkan emosi atau romantisme kisah kasih masa lalu. Semua ini saya lakukan, karena saya ingin menghidupi wasiat dari mendiang suami yang belum kami wujudkan, dan itu bagi saya berarti amanah yang harus direalisasikan.
Anak-anak sudah mandiri dan mapan. Mereka juga mempunyai kehidupan sendiri bersama dengan keluarganya.
Jujur, meski saya diajak serta oleh mereka, tapi dengan lembut saya memberi pengertian. Tidak berarti saya menolak dan tidak mau berkumpul dengan anak cucu. Tapi saya mau mengisi dan meneruskan hidup saya dengan berbuat baik, sambil menunggu saat itu tiba untuk menghadap kepada-Nya.
Saya aktif dalam kegiatan sosial itu juga tidak untuk pelarian, tapi didasari panggilan hati yang telah dijalani turun temurun oleh keluarga besar saya. Tujuan dari warisan Eyang adalah agar keturunannya mempunyai jodoh yang seiman.
Begitu pula, setelah suami tercinta saya berpulang. Pensiun suami itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Kini, jika saya berjualan makanan di depan rumah itu tidak lebih untuk mewujudkan mimpi berdua dengan suami: berbagi. Saya berjualan makanan itu tidak mencari untung, tapi perseduluran. “Tuna satak bati sanak.” Tapi yang utama itu untuk mengisi hari-hari dengan kegiatan positif dan agar sehat lahir batin.
Nasihat suami yang menginspirasi saya adalah, “mengisi hidup ini tidak untuk mencari pengakuan, tapi pemaknaan. Apa pun pekerjaan dan profesi kita, jika dijalani dengan hati, lakukan semua itu seperti kita melayani Tuhan agar kita ikhlas.”
Sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan, saya ingin hidup selamat dan bahagia, yakni dengan jadi mempelai-Nya!
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

