Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Mungkin, banyak orang hidup, tapi mereka tidak tahu, apa sesungguhnya tujuan hidupnya!
Sebuah keluarga muda sangat sibuk, karena hampir seharian keduanya terkurung di dalam rumah.
Ternyata keduanya sibuk menyortir barang-barang warisan peninggalan orangtuanya yang baru saja meninggal.
“Ternyata, warisan yang ditinggalkan orangtuaku lebih banyak rongsokan dan sampah,” kata lelaki itu.
Kadangkala, setelah bertahun-tahun kita hidup, disadari atau tidak, sesungguhnya yang kita kumpulkan itu sekadar sampah dan rongsokan, dan bukan warisan keabadian.
Sang manusia akhirnya mulai menyadari, bahwa sering kali yang kita kejar adalah harta duniawi. Gedung megah, aneka perabot rumah, emas dan permata, tapi kita lupa mengumpulkan warisan keabadian.
Apakah itu warisan abadi itu, โnama baik dan teladan hidup, spirit hidup saleh, serta pengalaman hidup beriman yang meneguhkan hati,” misalnya.
Hal-hal itu jauh lebih mulia dan berguna daripada mengumpulkan harta duniawi.
Karena warisan keabadian itu akan tinggal dan menetap di dalam sanubari anak cucu kita. Mereka akan memiliki cinta sejati dan belas kasih, serta katakter baik yang kelak juga diwariskan lagi kepada anak dan keturunannya.
Mari kita sibuk bergiat mengumpulkan warisan kekal itu sebagai hadiah termulia bagi anak cucu kita.
Kita jangan sekadar sibuk dan hanya mengumpulkan rongsokan serta sampah di dalam kehidupan ini.
…
Kediri,ย 13ย Juniย 2024

