Ketika nabi Samuel diutus Allah untuk mengurapi seorang Raja bagi Israel, pilihan Tuhan jatuh pada Daud. Bukan karena penampilan, kekuatan, atau status sosialnya, melainkan karena hati yang siap taat. Daud dipandang layak, bukan karena ia sempurna tanpa cela, melainkan karena ia memiliki kerelaan batin untuk mendengarkan dan menempatkan kehendak Allah di atas kehendaknya sendiri.
Ketaatan Daud tidak dipaksakan, tapi lahir dari iman dan percaya, bahwa Allah tahu yang terbaik. Di dalam diri Daud, Allah melihat suatu warisan: ketaatan manusia kepada suara-Nya, sebuah sikap yang seharusnya tetap hidup dari generasi ke generasi. Daud memberikan contoh, bahwa taat merupakan suatu perwujudan sikap manusia yang takut akan Allah.
Warisan ketaatan itu adalah panggilan luhur yang dititipkan Allah kepada umat-Nya: agar manusia tidak hidup mengikuti nafsu sendiri, tapi berjalan dalam terang kehendak Tuhan. Tapi warisan ini sering terancam oleh dosa. Dosa itu selalu berusaha merusak ketaatan dengan menggantinya jadi kesombongan, pembenaran diri, atau kehidupan yang sekadar ‘tampak benar’ di luar. Meski demikian, Allah tidak pernah mencabut warisan ketaatan itu dari dunia. Ia terus memelihara dan membangkitkan orang-orang pilihan: pribadi yang bersedia jadi pewaris dan penjaga kesetiaan kepada-Nya.
Dalam perdebatan Yesus dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, sosok Daud kembali diangkat sebagai tolok ukur ketaatan yang sejati. Yesus menyingkapkan, bahwa kehendak Allah tidak dapat dilaksanakan hanya dengan aturan lahiriah, apalagi dengan motivasi yang tercampur ambisi rohani. Ketaatan yang dikehendaki Allah adalah ketaatan yang murni: bebas dari kepentingan diri, tidak mencari pujian, dan tidak memakai agama sebagai alat kekuasaan.
Daud bukan sekadar Raja sejarah, melainkan ikon batin; gambaran manusia yang menjalankan kehendak Tuhan dengan hati yang terbuka, jujur, dan penuh kebebasan.
Allah tidak memanggil umat-Nya jadi generasi yang memutuskan rantai kesetiaan, tapi jadi generasi yang melanjutkan dan memurnikannya. Orang-orang pilihan Tuhan adalah mereka yang pantas mewarisi ketaatan: mau mendengar koreksi Tuhan; bertobat, ketika jatuh; dan tetap setia, meski tidak dilihat orang. Di titik inilah ketaatan jadi tanda identitas rohani: bahwa hidup ini merupakan milik Allah yang memimpin dengan kasih.
Mari lihat sebuah obor yang diwariskan dalam lomba estafet. Obor itu bukan sekadar benda, melainkan simbol arah, tujuan, dan tanggung jawab. Jika satu pelari menjatuhkannya, seluruh tim bisa kehilangan kesempatan, bukan karena obornya hilang, melainkan karena mereka lalai menjaganya. Namun pelatih tidak berhenti melatih, tidak berhenti memilih pelari terbaik, tapi ia memastikan obor itu tetap sampai ke garis akhir. Demikianlah ketaatan: warisan suci yang harus dijaga, bukan dipadamkan oleh dosa dan kelalaian. Sebuah warisan ketaatan bukan hanya cerita masa lalu, melainkan panggilan hari ini agar dunia tetap memiliki saksi-saksi yang setia, murni, dan bebas dalam menghidupi kehendak Allah.
“Ya, Tuhan Allah, kuatkanlah selalu komitmen iman kami kepada-Mu agar kami akan selalu mewarisi ketaatan akan kehendak-Mu kepada generasi muda di sekitar kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

