| Red-Joss.com | Judul itu terinspirasi oleh keberanian dua sosok Ibu rumah tangga menerima tugas pelayanan. Dua sosok Ibu yang tangguh, tegar dan trengginas, namun tetap lembut dalam pembawaan diri.
Makna kata ‘wani perih’ yang terbayang, adalah ketika dua Ibu itu menyampaikan niatnya untuk menerima peran sulit dalam pelayanan. Sulit karena saatnya memang sedang sulit, dan sulit karena peran ini diterima oleh dua orang Ibu yang sesungguhnya sedang berjuang. Maka, respon saya, “Bagus itu kawan, perjuangkanlah. Tapi tetap harus wani perih.”
Kenyataanya, memang harus ‘wani perih’. Derajat ‘wani perih‘ lebih tinggi dari ‘wani soro’.
‘Soro’ artinya adalah susah. Tapi belum tentu kesusahan itu menyebabkan kepedihan yang mendalam. Bisa jadi hanya pikiran yang pusing karena memikirkan hal-hal yang rumit. Sedang ‘perih‘, adalah kesusahan yang menyebabkan kepedihan di dalam hati. Kesusahan yang mengakibatkan nafas-nafas panjang. Kesusahan yang menorehkan luka, tapi tetap ada penyembuhnya.
‘Wani Perih‘ adalah sebuah pengingat awal dalam berjuang. Penegas untuk menguatkan mental. Jangan lemah, jangan sampai terpuruk, jangan sampai tak berdaya. Harus menjadi lebih kuat, lebih cerdik, dan lebih dekat dengan Allah. Sebab, hidup kita saat menerima peran itu telah bertumbuh menjadi sebuah kesaksian. “We have decided to follow Jesus, no turning back.”
Kenal lagu itu? Mengikut Jesus, keputusanku. Ku tak ingkar, ku tak ingkar.
Lagu ini merupakan salah satu lagu rohani tertua yg tetap dinyanyikan sampai sekarang. Lirik lagu itu diambil dari kata-kata terakhir yang diucapkan seorang lelaki berasal dari Assam (sebuah desa di Timur Laut India). Dia dan keluarganya telah memutuskan ikuti Tuhan Yesus pada pertengahan abad ke 19. Kepala suku memaksa meninggalkan imannya, namun lelaki itu berkata “I have decided to follow Jesus” (Mengikut Yesus Keputusanku). Walaupun kepala suku dan penduduk mengancam untuk memenggal kepalanya, namun lelaki itu tidak gentar dan tetap berkata “Though no one joins me, still I will follow” (Tetap Kuikut Yesus Walau Sendiri).
Isterinya telah dibunuh, karena iman mereka dan pada akhirnya lelaki itu pun dieksekusi ketika sedang menyanyikan “The cross before me, the world behind me” yang artinya “Salib di depan, dunia di belakang.”
Kesaksian iman lelaki ini telah membawa kepala suku dan semua penduduk desa bertobat dan ikut Yesus.
Semoga kesaksian iman kedua Ibu rumah tangga itu (dari dua Keuskupan berbeda) membawa cahaya bagi banyak Ibu dan kepala suku di sekitarnya untuk “no turning back, tidak ingkar.”
Selalu bangga menjadi sahabat Anda yang berani dan rela berbagi cahaya.
…
Jlitheng

