Red-Joss.com – Waktu… waktu… jangan kau berjalan terlalu cepat!
Di pagi hari itu aku masih ingin lebih lama lagi menemani istriku sampai gerbang tempat kerjanya. Biasanya ada sekitar 35 menit sebelum dia masuk kantor.
Kami sengaja berangkat lebih pagi agar tidak macet di jalan. Kami minggir untuk ngobrol dulu, sambil minum dan makan snack yang kami bawa. Memanfaatkan waktu yang ada. Setelah itu kami terserap dengan kegiatan masing-masing.
Waktu… waktu… jangan kau berjalan terlalu cepat.
Anakku yang pertama sudah menikah. Waktunya diberikan untuk suami dan anaknya. Dia tidak lagi menggenggam tanganku seperti dulu sebelum berangkat kerja.
Saya lalu ingin lebih lama menemani anakku yang nomer dua. Mencium keningnya dan membuat tanda salib di atasnya, ketika dia mau berangkat kerja atau pergi ke mana. Anakku ini tidak biasa mencium tangan seperti teman-temannya.
“Paaa… cium dan berkati…”
Saya ingin lebih lama dapat membukakan pintu gerbang jika dia pulang dilarut malam.
Waktu… waktu… jangan kau berjalan terlalu cepat. Saya ingin lebih lama menemani cucuku tumbuh kembang. Dia sudah bisa terkekeh, ketika aku menggodanya. Tangannya sudah bisa menggapapai, jika tanganku terulur padanya.
Cucuku cantik dan dia lucu menggemaskan. Ketika Farel menyanyikan lagu “Ojo dibanding-bandingke” saya malah sering pamer photo cucu di profile hape.
Times is life, hidup dan waktu berjalan seiring, namun bagi setiap orang akan dialami berbeda seirama dengan cuaca hatinya.
Waktu terasa lambat bagi yang sedang menunggu, terasa cepat bagi yang merasa takut, terasa sangat lama bagi yang sedang sedih dan terasa sangat pendek bagi yang merasa senang.
“Bagi mereka yang mencintai, waktu itu abadi.” (William Shakespeare)
Waktu mengajarkan tentang makna. Times is life, tidak ada makna yang besar yang tercipta tanpa memaknai waktu itu dengan baik.
“Time is not money, time is life.” Maka, bermaknalah selagi waktu bersamamu.
Selamat menikmati hari Minggu dan tetap bergairah jadi berkat, kendati waktumu sendiri mungkin sedang tidak nikmat.
…
Jlitheng

