Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sesuatu yang busuk
suatu ketika tentu akan
berbau juga.”
(Peribahasa Bangsa Kita)
Berani Berbohong demi suatu Tujuan Jahat
Pernahkah Anda di suatu saat, menyaksikan seorang yang berapi-api dengan berteriak-teriak sambil memojokkan dan mendiskreditkan seorang sahabatnya, hanya karena ia merasa sudah tidak nyaman lagi berada bersamanya?
Dia pun segera akan meninggalkan sahabatnya itu, walaupun dengan tanpa alasan yang jelas. Dari seberang sana, di saat ia merasa sudah mendapatkan sahabat baru, ia juga segera akan menggosipi sahabat lamanya itu.
Berbagai tuduhan jahat berupa fitnahan keji disebarkan kepada sahabat barunya tentang semua keburukan dari sahabat lamanya. Betapa ia merasa sangat beruntung, karena gosipan murahan dan kebohongannya itu didengar serta bahkan sangat dipercayai oleh sahabat barunya itu.
Dengan tanpa disengajakan, sahabat barunya yang selama ini rela dan ikhlas dengan menelan mentah-mentah semua kebohongan itu, ternyata di suatu kesempatan menerima informasi yang sangat kontras dengan ocehan murahan itu. Kini, kian sadarlah sahabat barunya itu dan ia mulai mengambil jarak untuk perlahan menjauhi si bocor mulut itu.
Apa yang telah Didengarnya itu Ibarat Jauh Panggang dari Api
Bagaikan jauh panggang dari api, karena semua aspek keburukan yang pernah didengarnya itu, ternyata hanyalah isapan jempol belaka alias sangat bertolak belakang dan berbalik arah dengan fakta yang sesungguhnya.
Mengapa dia rela menjauhi sahabat lamanya? Ternyata selama ini, ia sendirilah si pembohong yang doyan memfitnah dan berbohong demi menarik simpati dari para sahabat lamanya.
Ternyata berbagai gosip murahan yang telah disebarkannya itu, sebetulnya dia sendirilah yang telah melakukan. Setelah disadarinya, bahwa semua kebohongannya itu telah diketahui, maka ia segera berbalik arah demi mencari simpati di tempat yang lain.
Ia Licik bagaikan Belut
Manusia dengan karakterisktik konyol dan licik serupa ini, memang sering juga berada di mana-mana dan bahkan juga di tengah-tengah kita.
Bisa saja, dia itu adalah sahabat terbaik Anda, atau seorang tokoh idaman, atau mungkin saja, Anda sendirilah orang itu. Untuk itu, hendaklah kita hidup reflektif, sadar dan tahu diri, serta berhati-hati.
Sesuai Prinsip Filosofi dari Hukum Kehidupan ‘Phanta rei’
Berdasarkan prinsip dari hukum kehidupan, bahwa musuh terbesar dan paling berbahaya, justru datang dari seorang ‘sahabat terbaik kita sendiri.’ Mengapa? Bukankah selama ini, dia telah mengetahui semua kekuatan maupun kelemahan kita? Di suatu saat kelak dia malah akan berbalik arah dan kembali akan menerkam kita.
Dalam konteks ini, sungguh tepat, bahwa di dunia yang serba semu ini, sejatinya tidak pernah ada seorang sahabat sejati. Karena kawan pun akan berbalik arah jadi lawan, dan lawan pun akan berbalik arah jadi sahabat.
Dalam konteks iman dan kerohanian, bahwa segala sesuatu di atas muka bumi ini, sesungguhnya tidak ada yang sempurna dan abadi. Semuanya itu bersifat sementara serta dapat berubah seketika, bukan?
Masih ingatkah Anda akan prinsip filosofis dari filsuf Herakleitos, “phanta rei” bahwa segala sesuatu akan mengalir dan berubah, serta tak akan ada yang abadi.
Konklusi
‘Segala sesuatu yang busuk itu cepat atau lambat, toh akan berbau juga.’
Maka, semuanya itu akan terkuak seirama berjalannya sang waktu!
Sang Waktulah yang akan menjawab tentang semua teka teki kehidupan ini!
Kediri, 1 April 2025

