Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Detak-detakkan sang waktu yang sanggup mengingatkan kita, bahwa sejatinya siapakah kita?
Dialah Ibu kita”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Dialah Ibu Kita
Sang waktulah sebagai Ibunda kita yang paling setia. Dia selalu mengingatkan kita akan eksistensi dari hidup kita. Bahwa sejatinya siapakah kita ini?
Lewat detakkan denyut nurani tulusnya, dia selalu ikhlas untuk mengingatkan kita akan makna sejati dari tujuan akhir hidup kita.
Tulisan reflektif filosofi ini, mengingatkan kita akan akhir dari tujuan hidup kita di dunia maya ini.
Tulisan di Makam
Di atas makam seorang tentara Inggris di Monte Casino, tertulis :
“Bagi dunia, dia hanyalah seorang pria biasa. Tetapi bagi kami yang sungguh mengenalnya, dia adalah dunia itu.”
(1500 Cerita Bermakna)
Homo Viator
Gregorius Agung, pencetus adagium klasik “Homo Viator,” justru mau mendeskripsikan, bahwa hidup ini ibarat seorang yang sedang mengaso saat berziarah.
Sedangkan kemudian lewat refleksi filosofinya filsuf Perancis, Gabriel Marsel memaknakan, bahwa ‘dengan sekeping pengharapan,’ manusia peziarah ini, justru menemukan dirinya sebagai โhomo viatorโ yang sadar, bahwa dirinya justru ditopang oleh sebuah kekuatan traseden, yaitu Tuhan Allah. Dia kian yakin dan sadar, bahwa Tuhan yang telah berjalan bersama dia. Selain itu, dia sadar pula, bahwa dia berziarah bersama dengan sesamanya.
Bagi Kami Dia adalah Dunia
Untaian tulisan di atas makam tentara Inggris itu, justru mau menunjukkan sebuah identitas diri. Di sana terdapat sebuah kualitas personal selaku seorang manusia yang patut dibanggakan.
“Bagi kami, dia adalah dunia itu sendiri.” Sang pencetus rangkaian kalimat itu mau mengungkapkan, bahwa dia adalah pribadi yang hebat. Kami juga sadar, bahwa ‘waktu adalah Ibu kita!’ Artinya lewat waktu pula, kita kian mengenal pribadinya.
Konklusi
Mari kita berefleksi bersama sambil terus bertanya kepada diri sendiri. “Apa dan bagaimanakah rangkaian kalimat yang akan dituliskan di atas makam kita kelak?”
Bayangan Diri
Semoga kelak seorang yang telah sungguh mengenal diri kita ini, dengan tulus akan menuliskan seuntai kalimat, “Di sini, telah dimakamkan seorang yang tentang dia, tapi hanya Tuhan yang tahu.”
Memento Mori.
…
Kediri,ย 2ย Novemberย 2024

