Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tatkala aku sempat
melihat ke dalam,
ternyata wajahku pun
berada di dalam.”
(Refleksi tentang Kesadaran)
Lewat tulisan refleksi ini, kita diajak untuk turut mencermati dan memahami, “apa dampak serta risiko negatif dari sikap acuh tak acuh kita” di dalam sebuah komunitas?
Wajahku pun Berada di Dalam
Seorang aktivis keagamaan sangat risau akan sebuah fenomena hidup yang justru kian mewabah, ialah sikap acuh tak acuh di dalam kebersamaan mereka sebagai sebuah kelompok.
Inisiatif yang Dilakukannya?
Dia segera mengumumkan kepada para warganya, bahwa spirit kebersamaan itu kian merosot, sehingga di hari Minggu nanti akan diadakan upacara penguburan.
Ternyata pada hari Minggu pagi itu banyak warga yang menghadiri dan memadati upacara penguburan itu.
Di depan sekali diletakkan sebuah peti mati. Kini tampak sang aktivis itu bersama warga sedang mendaraskan doa-doa kematian.
Ia lalu menatap wajah para warganya sambil berkata, “Saya sungguh bersedih menyaksikan sebuah kemunduran drastis sebagai dampak dari sikap acuh tak acuh kita.”
Kemudian dia mengundang warga maju satu per satu untuk memberikan salam perpisahan kepada orang mati itu.
Warga pun maju satu demi satu, membungkukan kepala sambil memandang ke dalam peti mati itu.
Betapa tercengang mereka, karena yang dilihatnya di dasar peti mati itu justru wajah mereka sendiri.
Ternyata di dasar peti mati itu dipasangnya sebuah cermin. Menyaksikan pemandangan itu, warga mereaksi antara terkejut dan marah.
Paul J. Wharton
(111 Cerita dan Perumpamaan bagi Para Pengkhotbah dan Guru).
Wajahku pun Ada di Dalam
Siapakah yang mampu mengelak lagi, setelah dia benar-benar melihat seraut wajahnya sendiri berada di dasar peti mati itu?
Bukankah di dalam hidup dan kebersamaan ini, kita sering kali merasa sangat nyaman berada di dasar sebuah peti mati?
Mengapa kita merasakan sangat nyaman saat berada di dalamnya? Apakah tujuan kita berada di dasar sebuah peti mati? Apakah untuk sekadar bersandiwara ataukah sebagai sebentuk pelarian demi menghindari suatu kebersamaan?
Mari Bangun dan Berpartisipasilah
Mari kita segera bangun dari dasar peti mati dan berpartisipasilah di dalam suatu kebersamaan. Karena bukankah sikap acuh tak acuh itu adalah senjata pembunuh dari suatu kebersamaan?
…
Kediri, 4 Maret 2025

