Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada selembar potret Ibu, yang selalu terpampang di dinding sadarmu.”
…
| Red-Joss.com | Ibu kita laksana sebuah rumah. Dialah rumah utama kita. Tempat kita dilahirkan, dibentuk, dididik, dan dibimbing lewat gerbang nurani tulusnya. Ibu, ya ibu kita. Jemari pun derita yang terikat satu di dalam alunan cinta.
Kisah indah tentang Ibu kita, berarti kita kisahkan tentang keindahan dan misteri cinta mulia. Jika tentang Ibu, berarti ya, juga tentang Bunda bumi.
Setiap anak yang bijak senantiasa mengenang alunan melodi cinta dan kesetiaan tak terkira sang Ibu. Juga tentang jemari dan seuntai tangan tulusnya yang ikhlas merangkul, memangku, dan merawat kita.
Wajah Ibu. Yah, sepotong seiris wajah cinta tak terkira. Mari, sekali lagi kita mengenangnya dalam seuntai doa dan bakti kita. Karena kita adalah belahan jiwa pun buah rahimnya.
Hendaklah kita senantiasa tulus mengenangnya. Mendoakan dan peduli kepadanya. Kini, di atas ranjang nestapanya, hendaknya kita tetap setia melakukan kehendak cinta Ibu. Karena betapa tulus dan setianya Ibu kita.
Ada selembar potret paling indah dan menyejarah, ketika dari atas tiang salib terucap, “Ibu, itulah anakmu!” Dan “Anak, itulah Ibumu!”
Mater dolorosa, Mater mea.
…
Kediri, 23 September 2023

