Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Wajah asli kita adalah sekeping wajah riil kita. Sekeping wajah sesuai asal usul, gen, dan garis keturunan. Kita tidak dapat berkamuflase dan berbohong. Tidak dapat memanipulasi atau pun menyangkalnya lagi. “Karena wajahku adalah ekspresi jati diriku.”
Sekeping wajah tampak kian otentik justru di saat kita bercermin, mengaca pada sebening cermin.
Di sana dan dari sana pula akan terpantul rupa diri ini sesuai aslinya.
Dahi yang berkerut atau merata, pipi yang mengembung atau kempes, bola mata yang membiru atau hitam kecokelat akan terpantul asli, apa adanya. Maka, sekeping wajahku dan wajahmu, ekspresi dari keakukitaan asli.
Sejatinya tidak semua orang dapat menerima atau mengakui eksistensi dari tampilan asli raut wajahnya. Ada yang merasa sangat kecewa, jika ternyata kulitnya sudah kian menghitam. Atau merasa malu, karena kian banyak garis halus kerutan pada lekuk mata. Ada juga orang yang hampir tidak percaya, karena ternyata tampak banyak bintik menghitam pada kulit wajahnya. Fakta itulah tabiat asli manusia. Sangat sulit untuk rela menerima kenyataan yang kurang pada dirinya. Kita memang makhluk yang doyan berkamuflase. Doyan dan nyaman untuk berbunglon ria demi pemuasan ego personalnya.
Wahai sang manusia, kapankah kita akan menerima keaslian diri kita?
Hanya lewat sekeping keberanian dan kejujuran, kita dapat menerima diri kita asli otentik apa adanya.
Kita bakal lelah dan kian terpuruk selama kita selalu mengingkari keaslian eksistensi diri ini.
Wahai sang manusia, apa yang engkau cari di atas garang panas gurun kehidupan ini?
“Aku mencari jiwaku, tapi tak kutemukan. Aku mencari Tuhan, tapi Ia menghindar dariku. Ketika aku mencari sesamaku, aku malah menemukan ketiga-tiganya.”
(Abou Ben Adhem)
…
Kediri, 25 September 2023

