Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“E fructu arbor cognoscitur“
(Sebatang pohon dikenal dari buahnya)
,,,
| Red-Joss.com | “Jadi, Anda semua ingin mengetahui, cara terbaik ‘mendidik anak-anak’ inilah misterinya!”
Satu, teladan yang terpuji. Dua, teladan yang terpuji. Tiga, teladan yang terpuji.
Demikian jawaban paling arif serta mengejutkan yang meluncur tulus dari lidah Albert Schweitzer, misionaris agung. Beliau pun teolog, filsuf, dokter, dan musikus.
Apa warisan teragung yang perlu orangtua (ortu) serta para guru persembahkan kepada anak-anak?
Orang Latin, bahkan berpesan, “Maxima debitur puerto reverentia” “Kasih sayang berlimpah wajib diberikan kepada anak,” demikian Juvenal, Satura XIV: 47.
Saya kini teringat pada ungkapan, ‘pendidikan yang menghasilkan air mata.’ Artinya, pendidikan kita yang pada akhirnya, justru melahirkan generasi bermasalah serta penderitaan.
Jadi, bagaimana, ‘modus operandi’ atau cara terbaik untuk mendidik anak? Dari mana datangnya cara terbaik itu? Siapa pihak yang paling bertanggung jawab serta tepat untuk mendidik sang anak?
Saudaraku, marilah kita sekali lagi, kembali ke dalam dapur keluarga. Ingat, adagium Latin, “Bona culina, bona disciplina.” (Hanya dari dapur yang baik, datangnya kedisiplinan).
Di sanalah, tempat ‘utama dan pertama’ sang anak dan sang ortu pertama kali berinteraksi.
Proses pendidikan sejati adalah ‘proses perjumpaan antardua hati, sang anak dan sang ortu.’ Rentangan usia antara 0 hingga 7 tahun adalah rentangan waktu yang sangat mendasar serta menentukan dalam proses keberhasilan pendidikan sang anak.
Anak, dalam rentangan usia itu, memiliki suatu kemampuan untuk ‘meniru’ menjadi senjata pemungkasnya.
Jadi, sesungguhnya yang paling esensial serta dibutuhkan sang anak adalah ‘suri teladan baik dan benar’ dari ortunya.
Mari, cermatilah sekali lagi jawaban cerdas dari Tuan Albert Schwetzer, teladan yang terpuji, teladan yang terpuji, dan teladan yang terpuji.
Dalam konteks ini, peran mendasar dari sang ortu, ialah, bahwa ortu itu laksana sebingkai cermin bening nan jernih buat sang anak untuk mengaca serta berkaca.
Suri teladan baik dan benar sang ortu adalah aspek utama yang mutlak ada dan hadir. Inilah tuntutan utama dan pertama bagi sang anak dari ortunya, bukan dari sang kakek dan neneknya, apalagi dari sang tetangganya.
Marilah para saudaraku, bahwa suri teladan baik dan benar itu adalah sebingkai cermin nan bening buat sang anak kita. Di sinilah mereka akan mengaca dan berkaca diri sebelum beranjak ke mana pun.
“Ortu sejati itu, laksana serangkai titian emas, buat si mungil tertatih di atasnya!
…
Kediri,ย 17ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

