Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Sahabat baikku,
kini kurangkai lagi
alur kisah kita
tentang desa sunyi dan lolong anjing lapar
Kisah kita
seolah berlari, sahabat
relakah kau sesaat mengenangnya lagi
walau kau sudah berdasi?
Hari ini
di ujung senja sepi
kuingat lagi
Sahabat baikku,
mari sejenak turut bersenandung lagi
walau kau tengah bergegas di ujung jalanmu
(Pada Sepotong Catatan)
Saudaraku, kita tentu mempunyai sahabat, belahan jiwa personal. Bukan sekadar kawan atau pun teman. Melainkan dia, sosok spesial yang sungguh memahami. “Dia dan kau adalah saudara seperjuangan dan sepenanggungan.” Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Dia, sungguh tulus bersenandung di sisimu.
Kita, sang manusia adalah makhluk sosial. Nyata, bahwa sang manusia itu hanya sanggup bertumbuh dan berkembang, justru lewat suatu komunitas sosial. Proses itu sudah dimulai sejak dari rumah keluarga. Lalu kita menjalin relasi persahabatan kian meluas, di bangku sekolah, kampus, dan hidup bermasyarakat.
Di dalamnya, tidak ada kau-aku atau pun loe – gue. Bahkan, sepotong kue pun kita rela cicip bersama sambil bergurau. “No man is an island,” manusia itu bukanlah sebuah pulau. Namun sesungguhnya, kita bagaikan sebuah taman bunga beraneka warna.
Konsep Latin, filsuf Thomas Hobbes, “Homo homini lupus,” manusia, menjadi serigala bagi sesama itu sudah usang dan berantakan. Mari kita gantikan dengan konsep, “homo homini socius,” manusia adalah sesama bagi manusia yang lain.
Sesungguhnya, naluri untuk suatu kebersamaan itu, sudah ada dan bersemayam di dalam hati sang manusia.
Saya pun teringat, akan pemikiran filosofis dari filsuf Heidegger dan Gabriel Marcel, bahwa sang manusia itu, secara eksistensi adalah “ko-eksisten,” yakni, konsep ada bersama, dalam kesatuan “aku-engkau.” Inilah sebuah dorongan fudamental yang sangat mendasar. Sehingga, dari kodratnya, sang manusia itu selalu merindukan sang aku yang lain, yaitu sang engkau.
Semoga, bertumbuhlah kesadaran akan suatu kebersamaan di dalam lubuk jiwa kita. Idealnya, apa pun yang terjadi, dan di dalam sikon apa pun, hendaklah jalinan tali persahabatan kita, tak mudah terkoyak.
Khususnya di dalam sikon perhelatan politik ini, semoga tali persahabatan sejati tidak gampang terkoyak hanya atas nama perbedaan haluan politik.
Bagi sahabat sejati, hendaklah tidak mudah berubah menjadi musuh bebuyutan, hanya demi meraih kursi empuk di lingkaran pelataran kuasa.
“Wahai, sahabatku, di manakah engkau, kini?”
…
Kediri, 26 Mei 2023

