Red-Joss.com | Pokok refleksi: “Yang ke luar dari hati, dan didorong oleh kasih, akan menetap di hati dan tersimpan selamanya.” – Jlitheng.
Itulah makna terdalam dari Voice of the Voiceless. Gambaran nyata dari jiwa orang-orang yang tak segan berkorban untuk sesamanya, tanpa melihat latar belakang yang ditolong. Fenomena ini sangat kentara dan nyata ada dalam kehidupan harian umat Paroki St Bernadet (Sanberna), dari waktu ke waktu secara senyap. Rame ing gawe sepi ing pamrih.
Secara harafiah VoV artinya ‘Suara yang menyuarakan mereka yang tak bisa bersuara’. Lewat karya yang tidak membuat gaduh. Lantas siapa mereka yang tak bisa bersuara? Mengapa tak bisa bersuara?
Mereka itu dekat di sekitar kita, sesepuh yang sepuh dan sakit, yang difable, karena masalah fisik, mental, rohani atau ekonomi, yang kehilangan pekerjaan, yang tidak punya pekerjaan tetap, anak-anak yang tidak sekolah, atau mereka yang terkucil, karena faktor yang tak bisa diungkap.
Siapa pun yang hatinya tergerak oleh belas kasih adalah Voice of the Voiceless itu. Mereka itu semua yang merasa dipanggil oleh hati nuraninya untuk menyatakan “keprihatinan Tuhan” pada mereka yang kecil, lemah dan dilupakan. Mateus 11,28.
Yang layak disebut voice of the voiceless adalah mereka yang melakukan karya baik itu dengan ajek, tanpa umbar kata dan membawa manfaat nyata bagi yang dibantunya. Meningkatkan kehormatan bagi penerima dan damai sejati bagi si pelaku.
Contoh:
(1) Yesus ketika membela Maria Magdalena yang nyaris mati dirajam.
(2) Para pensiunan guru yang memberikan les gratis untuk anak-anak kampung yang tidak mampu.
(3) Penyumbang tetap per bulan untuk ASAK.
(4) Lansia yang sudah bertahun merawat kehidupan rohani sesama lansia yang sakit dan difable.
Teruslah mengabdi teman, dengan ketulusan hati. Teruslah menjadi “voice of the voiceless“, sebab apa pun yang ke luar dari hati akan sampai ke hati dan tersimpan di sana selamanya.
Ada kisah menarik yang saya dapat dari sepupuku, Sr P Fch, katanya : “Om, dalam perayaan 100 tahun SCJ di Indonesia, Uskup Agung Palembang, Mgr Yoh Harun Yuwono bercerita tentang pengalaman beliau 43 tahun yang lalu saat beliau masih seminaris.
“Dulu waktu di Seminari saya diberi batik oleh romo prefek, ‘em-es’, saat akan acara koor, batik yang sangat bagus. Ketika selesai koor saya kembalikan baju batik tersebut tapi romo ‘em-es’ mengatakan ambil saja itu untukmu. Wah saya sangat senang sekali memiliki baju batik yang saat itu paling bagus untuk seminaris. Itulah SCJ yang saya rasakan saat itu.“
Pengalaman yang sudah sangat lama dan sudahlah pasti tertimbun oleh ribuan masalah penggembalaan beliau sebagai Uskup, di dua Keuskupan. Mengapa kisah batik itu masih tersimpan dan muncul lagi? Jawaban itu ada di hati kita.
Menurut saya, tujuan cerita itu bukanlah untuk pemberi batik (yang diduga senang, karena tetap dikenang), tetapi untuk kongregasi yang sedang berpesta dan juga untuk kita semua, agar tidak larut oleh waktu untuk setia menjadi “Voice of the voiceless.”
Yang terjadi dalam diri Uskup itu memberi kekuatan bagi kita agar tetap setia berbuat baik. Walau tujuannya tidak untuk dikenang, tetapi akan membuat kita senang jika penerima itu merasa senang dan… lama.
Tetap tekun menjadi “voice of the voiceless.“
…
Jlitheng

