Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Semakin banyak memperhatikan apa yang dikerjakan orang lain, kian banyak pula kita belajar sesuatu untuk diri kita sendiri”
(Isaac Bashevis Singer).
Jangan Enggan untuk Menghargai Sesamamu
“Berikan penghargaan tulus Anda kepada para karyawanmu, selagi peluh masih menggantung pada alis mata mereka,” demikian sebuah himbauan sebagai spirit hidup dari H. Ross Perot (pengusaha dan politikus AS), tentang bagaimana pentingnya, Anda segera untuk memberikan penghargaan yang paling tulus kepada mereka.
Selanjutnya, beliau menekankan, bahwa ‘mengapa kita harus menunggu untuk memberikan penghargaan pada saat yang tepat, kala pengorbanan mereka masih segar dalam ingatan mereka?’ Ketahuilah, bahwa di balik sikap terpuji itu, dampak psikologisnya itu akan sangat besar bagi mereka, dan bagi Anda sendiri.
(The Maxwell Daily Reader).
Bahkan Deepak Chopra (penulis, dokter, dan filsuf India-Amerika Serikat) berujar, bahwa “Agar orang lain dapat membantu kita untuk mencapai tujuan, kita harus terlebih dahulu membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka.”
Adapun makna terselubung dari tuturan itu ialah, bahwa ‘manusia adalah makhluk ciptaan yang memiliki naluri dan kesadaran tinggi, untuk selalu mau membalas kebaikan sesamanya.’ Bagaimana orang lain akan bersikap peduli dan acuh kepada Anda, jika Anda sendiri, justru bersikap tidak acuh kepada mereka? Bukankah naluri alam itu adalah ekspresi dari hukum kehidupan, yang melekat erat di dalam kesadaran nurani manusia?
Di dalam konteks ini, bukankah tindakan Anda, untuk segera memberikan penghargaan yang tulus kepada orang lain, sebagai sebuah kewajiban moral yang sangat manusiawi sesuatu kebutuhan psikologis?
Filosofi Vitalnya Memberi Penghargaan kepada Orang lain
Hendaknya, Anda pun saya selalu mengingat akan vitalnya sikap menghargai orang lain. Mengapa kita justru sangat perlu untuk bersikap demikian?
Karena di balik sikap itu, terdapat sebuah cara, yakni:
- (1) Bagaimana Anda mengakui nilai dan kontribusi yang telah mereka persembahkan.
- (2) Selain itu, Anda pun mau bersyukur dan mengapresiasi tindakan positif dari mereka.
Bukankah di balik ‘penghargan’ itu, sesungguhnya Anda telah memotivasi mereka untuk terus mau bertumbuh dan berkembang demi meningkatkan kualitas diri? Inilah sebuah siklus hidup yang sangat postif!
Refleksi
Marilah kita merenungkan tentang “vitalnya sikap menghargai” sesama!
“Kriteria yang terbaik untuk mengukur sejauh mana keberhasilan Anda dalam hidup ini adalah dengan menghitung jumlah orang yang telah Anda bahagiakan.”
(Robert J. Lumsden).
Kediri, 9 April 2026

