Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berbahagialah hai hamba-Ku yang baik dan setia.”
(Sang Guru Kebijaksanaan)
Keyakinan Murahan
“Inilah Sebuah Janji Surga,” demikian sebuah jargon konyol yang cukup sering kita dengar lewat percakapan ‘murahan atau sekadar celoteh penghibur diri yang memang sering kali tanpa dasar.’ Karena toh ada orang-orang yang dengan seenaknya melemparkan jargon-jargon konyol yang sesungguhnya tidak dipahaminya dengan baik dan benar. Sering kali juga, ucapan serupa ini, justru mau mendeskripsikan, bahwa sungguh, betapa kerdil dan dangkalnya iman kepercayaan kita.
Mengapa? Bukankah lontaran ucapan serupa ini sering rancu dan telah membingungkan hati banyak orang. Juga sesungguhnya, kita dapat kritis bertanya, ‘di manakah sumber dasar kebenarannya dan apa esensi dasarnya?’
Semoga kita l berusaha untuk tidak terjerembab dan terperangkap di dalamnya. Usahakan untuk menghindari tuturan murahan serupa ini di dalam ziarah hidup kita.
Kebaikan Hati
Salah seorang serdadu Raja Iskandar Agung, sedang sibuk menarik seekor bagal alias keledai yang sedang membawa beban sangat berat di punggungnya. Serdadu itu dengan cermat mengamati kelelahan keledai setia itu.
Apa yang dilakukannya? Serdadu hebat itu segera mengambil sekarung beban dari punggung keledai itu dan dengan ikhlas dipikulkan ke pundaknya sendiri.
Di saat itu juga, kebetulan mata Raja Agung sempat melihat tindakan terpuji yang dilakukan oleh tentaranya itu.
Lalu Raja Agung itu memanggil tentaranya itu dan berkata, “Karung yang kini berada di pundakmu itu, berisi ribuan kepingan emas.” Mendengar ucapan Raja, maka betapa terperanjatnya tentaranya itu.
“Abdiku yang tulus dan setia, ambillah ribuan kepingan emas itu sebagai hadiah dariku buatmu seorang. Itu jadi milikmu dan kamu sungguh layak untuk menerimanya.”
Our Young People
(1500 Cerita Bermakna)
Kita pun Orang Upahan
“Barang siapa yang tidak bekerja, janganlah ia makan,” demikian ucapan Santo Paulus. Sebaliknya ucapan ini dapat bermakna, bahwa hanya orang-orang yang bekerja keras yang boleh mendapat jatah makanan, bukan? Sebagai orang upahan, bukankah sudah selayaknya, bahwa kita harus bekerja agar boleh makan.
Zaman Kalkulator
Di zaman yang serba hitung-hitungan ini ada selentingan, bahwa sejatinya di dalam hidup ini, ‘tidak ada istilah gratis.’ Ya, sungguh, tidak ada yang gratis. Mengapa harus demikian? Bukankah hidup kita ini sudah dirajai sistem kerja dari sebuah kalkulator? Artinya semuanya harus dapat diukur, didacing, dan dihitung.
Tapi sebagai seorang upahan, bahwa prinsip dasar dari tuturan Santo Paulus ini perlu kita maknakan secara arif. Artinya, hendaklah di dalam hidup ini, kita harus turut mengambil bagian dengan turut melayani. Janganlah kita bermental benalu.
Kesetiaan yang Mengagumkan
“Karena engkau telah setia dalam perkara kecil, maka perkara besar pun akan diberikan kepadamu. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuanmu, hai hamba yang rajin dan setia.”
Janji besar dari Tuhan ini ditujukan kepada para hamba yang tulus, rajin, dan setia. Dalam konteks ini, ternyata Raja Iskandar agung telah melakukannya kepada seorang hambanya yang juga tulus dan setia.
Janji itu akan Digenapi
Jika di dunia saja janji sebesar itu sudah dilaksanakan oleh seorang Raja, nah apalagi Bapa di Surga?
Tentu saja, janji besar itu pun akan digenapi tepat pada waktunya!
Semoga Anda salah seorang dari mereka yang turut menerimanya kelak.
“Berbahagialah semua kepingan hati, yang tulus ikhlas dalam hidupnya!
Kediri, 3 Oktober 2025

