“Katakan dengan cinta itu di mulut, tapi ungkapan cinta itu ke luar dari hati yang mengasihi.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketimbang berkata-kata manis yang membius, tapi kosong dan bohong. Lebih bijak, jika cinta itu diungkapkan lewat sikap dan perilaku hidup keseharian kita.
Tidak untuk berkamuflase, apalagi sebagai pecitraan. Tapi sadar diri, kita melakukan semua itu dari hati, karena meneladani dan taat pada perintah Tuhan Yesus.
“Lakukan semua itu untuk-Ku.”
Sadar diri untuk taat dan setia pada Tuhan itu anugerah-Nya agar kita memaknai hidup ini.
Sadar diri, karena kita mau dipimpin dan diarahkan Tuhan agar tidak cinta diri dan egois, tapi memiliki keluasan hati yang lembut, sabar, dan mengasihi.
Mengasihi sesama itu tanpa alasan, tapi spontan, karena anugerah-Nya agar kita jadi bijaksana.
Ketika mengasihi itu sebagai nafas umat beriman, kita melakukannya tidak sebagai suatu keterpaksaan atau kepura-puraan, tapi dari hati. Karena kita menghadirkan wajah Tuhan dalam keseharian.
Ketika semangat mengasihi telah menyatu dengan hidup ini, maka aura kasih itu terpancar lewat kata-kata, tatapan, sikap, dan perilaku.
Ketika hidup ini untuk mengasihi sesama hati ini tidak mudah terluka, meski dihina, diremehkan, bahkan sekalipun didholimi dan dikhianati. Tapi kita diajak untuk mengubah dari perseteruan dan permusuhan itu jadi persahabatan dan persaudaraan dalam Tuhan!
Dengan semangat mengasihi, kita mewujudkan perintah Tuhan jadi nyata. Hidup saling mengasihi, dan bahagia.
…
Mas Redjo

