Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sudah berapa banyak undangan yang pernah diterima, selama Anda mengarungi panas gurun kehidupan di bumi ini?
(Amanat Kehidupan Sejati)
…
| Red-Joss.com | Undangan, itu biasanya berupa sebuah ajakan resmi untuk menghadiri sebuah aktivitas tertentu.
Entah untuk sebuah acara yang resmi dan formal di pemerintahan atau di bidang keagamaan, di sebuah organisasi, atau juga dalam sebuah arisan bersama tetangga.
Biasanya di dalamnya terpampang pula, apa nama kegiatan, siapa yang menyelenggarakannya, termasuk yang tidak kalah urgen adalah kapan hari dan tanggal serta pukul berapa diadakan?
Juga pada akhir surat undangan itu akan tercantum pula, nama siapa yang mengundang alias si pengundang, bukan?
Anda pun bebas bersikap untuk menghadiri atau pun tidak.
Tapi jangan Anda sepelekan, siapa nama besar pribadi di balik surat undangan itu. Siapa sang pengundang?
Biasanya tercantumnya sepenggal nama besar sebagai penanggung jawab dan penanda tangan surat undangan itu turut menentukan, apakah Anda akan hadir atau tidak.
Demikian undangan demi undangan yang sudah dan akan diterima selama Anda masih setia berlalu lalang di atas hamparan pasir gurun kehidupan ini.
Sesungguhnya, apa itu “Undangan paling Akhir.” Sejumlah pertanyaan kritis retoris pun dapat kita ajukan.
Siapa dan dari mana datangnya undangan paling akhir itu? Apa pula isi dab tujuan dari undangan itu? Kapan, di mana, dan pukul berapa aktivitas itu akan dilaksanakan? Tentu, hal terpenting yang perlu diketahui, ialah “Siapakah si pengundangnya?”
Hal yang paling menarik dan misterius, dari keberadaan undangan yang paling akhir itu, justru tidak kita ketahui kapan, di mana, serta bila mana aktivitas privilese itu akan diadakan.
Saya teringat akan sebuah ilustrasi, tentang seorang malaikat maut yang sibuk mencari, mengejar, dan akan menjemput seorang kesatria yang berusaha menghindar dari undangan paling akhir itu.
Di suatu kesempatan, malaikat maut itu mendatangi kemah sang kesatria dan berpesan, bahwa besok dia akan dijemput.
Maka, sang kesatria itu segera menunggang kudanya dan berlarian tanpa arah demi terhindar dari kejaran itu.
Tapi malang baginya. Karena di saat dia sedang asyik mengaso di dalam kemah persembunyian, berdirilah sang malaikat maut itu di samping kemah dan bertutur, “Saudara, kini aku telah berada di sini untuk menjemputmu.”
Begitulah, apa yang bakal menimpa Anda, saya, dan kita di suatu saat kelak. Yakinlah, kita tidak pernah tahu, kapan, bilamana, dan di mana saat itu akan tiba. Itulah keunikan dari sebuah undangan yang paling akhir.
โHodie mihi cras tibiโ, “Hari ini saya, dan besok giliranmu,” demikian pesan aktual dari sebuah adagium Latin.
Itulah tabiat paling misterius dari sebuah undangan yang paling akhir.
Anda dan saya pun tak perlu berkuda berlarian entah ke mana, hanya untuk menghindarinya.
Sesungguhnya manusia dan kematian adalah dua sahabat yang paling karib.
Barang siapa yang pernah dilahirkan ke atas bumi ini, hanya ada satu kepastian yang akan dihadapinya, yaitu kematian!
…
Kediri,ย 27ย Juniย 2024

