“Bukankah sepuluh orang tadi semuanya telah jadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” (Luk 17: 17).
Sikap yang tidak sopan dan tidak bijak. Karena tidak dikembangkan sikap bersyukurnya. Kebiasaan yang tidak baik ini hendaknya tidak diulangi.
Jika kita diberi kemudahan, ucapkanlah “Terima kasih” kepada yang memberi.
Jika doa kita dikabulkan, ucapkanlah “Terima kasih” kepada para sahabat yang ikut mendoakan dan bersyukurlah kepada Tuhan yang telah mengabulkan doa kita.
Jika kita sudah diterima dengan baik, ucapkanlah “Terima kasih” kepada pribadi-pribadi yang telah menerima kita.
Jika kita sudah jadi bagian dari sebuah komunitas, ucapkanlah “Terima kasih,” karena di tempat inilah tanah yang baik telah disediakan bagi pertumbuhan hidup rohani kita.
Tidak usah menunda-nunda, jika hal itu memang baik untuk dilakukan. Tapi, tidak untuk ‘pamer’, ketika kita berbuat baik.
Prioritas utama dan penting adalah, kita berbuat baik, karena ingin meringankan beban bagi yang ditolong. Sungguh tepat yang dikatakan Tuhan, “Bangunlah dan pergilah; imanmu telah menyelamatkanmu” (Luk 17: 19).
Dia yang disembuhkan dari penyakit kusta, tidak kabur atau menyelonong pergi, tapi bersujud di hadapan Tuhan dan berterima kasih. Yang didapatkan adalah hidup yang baru, semangat, dan perjalanan hidup dengan visi yang baru. Dimulainya hidup yang bersih.
Pesan Yesus jelas sekali. Bisa jadi kita kabur, karena ingin bercerita kepada yang lain, tapi lupa dengan orang yang pertama menolong. Bersemangat itu boleh, tapi kita harus bijaksana. Kebijaksanaan itu untuk membuat skala prioritas, dimulai dari yang penting. Hal ini yang terjadi, satu dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus itu adalah orang yang bijaksana. Mengapa? Dia tidak pergi dan kabur, tapi kembali kepada Yesus, Sang Penyembuh dan mengucapkan “Terima kasih.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

